"Kamu yakin Mir, mau resign?" tanya Meyra.
Aku menghela napasku dulu, menunduk seraya mengaduk pelan minumanku.
"Sebenarnya aku juga masih bingung, sih. Aku masih mau kerja di sini, tapi Mas Adryan kayaknya lebih suka kalau aku di rumah," jawabku seraya mengeluh.
"Itu sih terserah kamu yah, Mir. Tapi... kalau menurut aku sih, kamu kan belum hamil, belum punya anak, mending kerja aja. Daripada di rumah, lama-lama juga pasti bakalan bosen. Kalau kamu kerja kan kamu bisa dapet gaji, punya penghasilan sendiri, lebih enak punya penghasilan sendiri loh, jadi bebas kita mau pake uang kita buat apa," sahut Rini.
"Iya juga sih, Mir. Lagian sayang banget kalau kamu resign, ga gampang juga dapet kerjaan enak kayak gini," timpal Meyra.
Ucapan Rini dan Meyra membuatku semakin bingung. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas.
"Mending kamu obrolin lagi aja. Lagian bukannya suami kamu juga katanya suka sibuk, yah. Daripada nanti kamu cuma di rumah doang, suami kamu juga bilangnya terserah kamu kan, kalau kamu masih mau kerja," saran Rini.
"Iya, Mir. Nanti aja kalau kamu udah hamil atau udah punya anak, baru kamu resign," timpal Meyra.
"Iya. Adryan emang ga pernah maksa aku, sih. Dia bilang, dia cuma kasihan aja sama aku, katanya jaraknya kan sekarang lumayan jauh dari rumah ke kantor," balasku.
"Eumm. So sweet banget sih, si Adryan itu kayaknya perhatian banget yah Mir, sama kamu?" tanya Meyra.
Aku hanya meresponnya dengan tersenyum kecil.
"Lagian kamu juga sih, Mir. Pake pindah rumah segala ke kota, kan jadi lebih jauh ke kantor,” ujar Rini.
"Loh, dia pindah kan karena ikut suaminya. Bukannya harusnya kayak gitu yah, istri ikut kemanapun suami pergi. Apalagi pindah ke rumah yang udah disiapin sama suami," sahut Meyra.
Rini nampak membuang wajah seraya menghela napasnya.
Tiba-tiba saja ponselku berdering.
"Bapak?" ucapku.
"Sebentar yah, aku mau angkat telepon dulu," izinku.
Aku memisahkan diri dari Meyra dan Rini untuk mengangkat telepon dari Bapak.
"Halo. Assalamualaikum, Pak," ucapku.
"Halo. Waalaikumsalam," jawab Bapak.
"Mir, ini Bapak, gimana kabar kamu? Sehat?" sahut Bapak di sebrang sana.