Malam turun dengan tenang, menyelimuti rumah dalam kehangatan yang nyaman.
"Segini, Mas?" tanyaku saat menuangkan nasinya untuknya.
"Udah, udah, cukup," jawabnya.
Di meja makan tersaji hidangan yang sudah kusiapkan.
"Mas, tadi... Bapak nelpon. Katanya Bapak mau kita... nginep di rumah," ujarku dengan sedikit ragu dan canggung.
"Oh, yaudah. Kapan?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak seraya mengerutkan kening.
"Kalo besok, gimana?” balasku.
“Besok?”tanya Adryan lagi seraya sedikit mengerutkan dahinya.
Aku hanya tersenyum tipis seraya menatapnya dengan harap.
“Yaudah. Besok kita ke rumah Bapak, kita nginep di sana. Jangan lupa kamu siapin bajunya," ucapnya.
Aku pun langsung tersenyum.
“Iya, Mas,” balasku seraya mengangguk pelan.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Rini soal Adryan dan Rena. Bagaimana jika di rumah nanti, Rena sedang memakai pakaian mininya seperti biasa, lalu Adryan melihatnya?
"Sayang. Sayang…!” ucap Adryan seraya menyentuh lenganku.
“Kamu kenapa? Kok bengong?" tanyanya.
"Oh enggak, Mas. Ga apa-apa," jawabku sedikit gugup sambil tetap tersenyum tipis.
"Ayo, makan," ucapnya
"Iya, Mas," balasku.
Malam pun kian gelap dan terasa mencekam. Aku melihat Adryan sudah tertidur pulas di sampingku. Di tengah keheningan malam yang sunyi, aku menatap atap kamar dengan gelap lalu menghela napas. Suasana malam semakin hening dan hanya terdengar suara detik jam yang berdetak yang akhirnya mengantarkanku untuk tidur. Waktu begitu terasa singkat, aku membalikkan badan, dengan setengah sadar dan dalam mata yang masih terasa berat, aku nampak tak melihat Adryan di sampingku. Sontak aku melebarkan mataku, aku juga sedikit terlonjak untuk bangun dan bertanya dalam hati Kemana Adryan? Kenapa dia tidak ada di tempat tidur.
Namun saat aku mulai benar-benar bangun, aku sedikit terkejut karena melihat Adryan yang ternyata tengah beribadah, ia tengah sembahyang. Aku menoleh pada jam dinding yang berdetak, waktu menunjukkan pukul 04.00 subuh. Ternyata Adryan bangun untuk ibadah sholat malam. Aku tau, Adryan tidak akan tidur lagi, ia pasti akan menunggu sampai azan subuh berkumandang lalu lanjut untuk ibadah sholat wajibnya. Lagi-lagi aku merasa terharu, betapa sholehnya suamiku itu.
Aku memutuskan untuk tidur kembali, aku tidak ingin mengganggunya. Biarkan dia fokus dengan ibadahnya. Namun entah mengapa perasaan bersalah muncul begitu saja, melihat Adryan seperti ini, rasanya kejam sekali jika aku menyimpan prasangka buruk padanya. Adryan adalah pemuda yang baik dan sholeh, ia sangat taat dengan ibadahnya. Rasanya tidak mungkin, jika ia akan tergoda hanya karena melihat wanita yang berpakaian seksi, apalagi itu Rena, adik iparnya sendiri.
***
Pagi pun datang dengan sinar keemasan yang membelai bumi.
Aku dan Adryan sudah berada di dalam mobil, untuk menuju ke rumah Bapak.
"Kamu mau bawa apa untuk Bapak?" tanyanya seraya menyetir.
Aku menoleh dengan mengernyit.
"Maksudnya, Mas?" balasku.
Adryan nampak tersenyum tipis.
"Kita kan mau ke rumah Bapak, kamu ga mau bawa sesuatu buat Bapak?" tanyanya lagi.