Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #62

Permintaan Bapak dan Adryan

"Kenapa, Pak?" tanyaku.

Bapak nampak membuang napasnya dulu.

"Ini, Mir. Bapak tuh mau… sebentar, kamu tadi bilang mau beli sayuran?” tanya Bapak.

“Iya,” jawabku.

“Terus habis itu, kamu masak?” tanya Bapak lagi.

“Iya,” jawabku lagi.

“Mir, kamu sama Adryan kan baru aja sampe, kamu juga pasti masih capek. Daripada kamu beli sayuran terus kamu masak, mending kamu beli makanan yang sudah matang di warungnya Bu Ningsih. Kebetulan katanya Bu Ningsih itu sekarang jualan segala macam masakan juga, jadi kamu ga perlu repot lagi buat masak. Kalau mau dimakan hangat kan tinggal dipanasin," saran Bapak.

"Oh, yaudah. Nanti Mira ke warungnya Bu Ningsih beli makanan buat makan nanti malam," ucapku setuju.

Bapak nampak menghela napasnya lagi. 

"Mir, sebetulnya... Bapak mau ngomong sama kamu," ujar Bapak seraya merubah posisi duduknya. 

"Kenapa, Pak?" tanyaku penasaran karena melihat wajah Bapak yang nampak serius.

"Gini, Mir. Bapak punya usul, kalau... gimana kalau kita suruh orang buat kerja di rumah ini," usul Bapak.

"Maksudnya, Pak?" tanyaku dengan mengernyit.

Lagi-lagi Bapak nampak membuang napas panjang.

"Jadi... kemarin itu Bu Dini lewat, terus dia cerita, kalau dia kerja di rumahnya Bu Yulia. Bantu-bantu Bu Yulia buat bersihin rumahnya, nyuci, ngepel. Maksud Bapak, kamu tau kan, gimana Rena, dia itu anaknya manja, bangun juga suka siang, apalagi kalau dia habis lembur. Sementara Bapak, jujur Bapak ga sanggup kalau harus ngurus rumah ini sendirian, belum lagi nanti harus nyari makan keluar. Jadi, gimana... kalau kita suruh orang buat kerja di sini?" tanya Bapak dengan sedikit ragu.

Aku diam untuk berpikir, mencoba menimbang usul Bapak.

"Gimana, Mir, menurut kamu?" tanya Bapak lagi.

"Ya... kalau Mira sih, terserah aja, Pak. Terus emang udah ada orang yang mau kerja di sini?" balasku 

"Kalau orang ya pasti ada. Itu, Bu Dwi, suaminya kan sudah meninggal, terus katanya dia sekarang jadi buruh cuci tetangganya, tapi yang Bapak dengar ga tiap hari nyucinya, kalau ada cucian di cuci kalau ga ada, ya ga nyuci. Bapak sempat nanyain soal Bu Dwi sama Pak Samsul, katanya sih Bu Dwi ya mau-mau aja, malahan senang karena dapat kerjaan," jelas Bapak.

Aku terdiam sejenak, mencoba berpikir dan mencerna usul Bapak itu. 

"Yaa.. itung-itung kita berbagi rezeki sama Bu Dwi. Kasihan, dia kan janda punya anak masih kecil-kecil," sambung Bapak.

"Terus, nanti.. buat bayar Bu Dwi gimana, Pak? tanyaku lagi.

"Ya kamu, Mir. Siapa lagi, kalau Rena kamu kan tau sendiri. Dia mana mau, lagian gajinya juga ga seberapa. Tapi kalau kamu kan gajinya besar, apalagi sekarang kamu ada Adryan yang gajinya jauh lebih besar juga," jawab Bapak.

Lagi-lagi aku terdiam seraya menarik napas panjang. Rasanya seperti aneh, tapi yang dibilang Bapak memang ada benarnya. 

"Tapi Pak, apa ga sebaiknya... Tapi Mira juga harus izin dulu sama Adryan, Pak," ucapku.

Lihat selengkapnya