Rena nampak mengeryit.
"Terus, Mbak?" tanyanya.
"Masalahnya, Mas Adryan minta Mbak buat resign dari kerjaan Mbak. Dan kalau Mbak resign, otomatis Mbak udah ga dapat gaji lagi, terus buat bayar orangnya nanti, gimana?" balasku.
"Loh, emangnya kenapa Mas Adryan nyuruh Mbak, resign?" tanyanya lagi.
Aku menghela napas.
"Mas Adryan lebih suka Mbak di rumah aja," jawabku.
"Kok, gitu? Emangnya kenapa kalau Mbak kerja?" lanjutnya.
Aku menghela napas lagi.
"Ya, ga apa-apa. Yaa... mungkin, Mas Adryan lebih suka punya istri yang di rumah aja,.dibanding istrinya kerja atau jadi wanita karir," jawabku lagi.
Dahi Rena nampak semakin mengkerut, terlihat ia seperti tengah berpikir.
"Harusnya Mas Adryan terima dong kalau istrinya mau kerja, kan dari awal Mas Adryan tau kalau Mbak itu emang kerja, jadi wanita karir," ujar Rena.
"Ya ga gitu juga Ren. Setelah kita menikah, ya sepantas kita memang harus patuh sama suami, selagi itu positif," tuturku.
Rena nampak menghela napas panjang.
"Terus jadinya gimana? Mbak bener-bener mau resign? Udah enak-enak kerja kantoran, malah mau resign," cetusnya.
"Ya mau gimana Ren, Mbak juga bingung. Mas Adryan maunya Mbak di rumah, aja," balasku.
"Ya.. kalau gitu, Mas Adryan harus ngerti dong. Mbak di kasih uang kan, sama Mas Adryan?" tanyanya.
"Yaa, Mbak memang dikasih uang sama Mas Adryan, tapi Mbak ga enak lah Ren, kalau uang yang dikasih Mas Adryan Mbak pake buat bayar orang yang kerja di sini. Di rumah Mas Adryan aja ga ada pembantu, masa Mbak minta uangnya buat bayar orang yang kerja di sini," keluhku.
"Ya kalau gitu Mbak jangan resign dong, biar Mbak tetap dapat gaji, terus gajinya bisa buat bayar orang yang kerja di sini nanti. Lagian, Mas Adryan pelit banget, masa Mbak ga boleh pake pembantu, katanya tinggalnya di perumahan, terus Mas Adryan juga jabatannya manager, masa sewa pembantu aja ga boleh," sungut Rena.
"Loh, kok kamu jadi ngomongin Mas Adryan sih, Ren? Mbak sama Mas Adryan kan baru aja menikah, belum juga sebulan. Lagian Mbak masih bisa kok ngurusin rumah sendiri, harusnya kamu juga bisa, Ren," balasku.
"Ih, Mbak apaan, sih. Mbak ga liat, aku aja baru pulang kerja, terus kerjaan aku sama Mbak juga beda. Mbak ga tau kan, rasanya gimana disuruh keliling toko sama promosiin produk ke jalan? Itu capek Mbak, panas lagi. Mbak sih enak, kerjanya cuma duduk doang, kalaupun lembur juga ga akan secapek aku," keluhnya lagi.
Aku menarik napas seraya memejamkan mata.
"Yaudah. Eh.. tapi, kamu kan katanya sekarang sering lembur berarti gaji kamu nambah dong? Kalau gitu kamu aja yang ngegaji orang yang bakalan kerja di sini nanti," usulku.