"Mas, sebenarnya...," ucapku menggantung.
"Apa?" tanyanya. Adryan nampak menatapku dengan serius.
"Ada, apa?" tanyanya lagi.
"Mas. Aku... mau minta izin sama kamu," jawabku dengan berat.
"Minta izin? lzin untuk, apa?" tanya Adryan lagi.
"Aku... masih mau kerja, Mas. Dan.. aku mau izin untuk pakai gaji aku, buat... keperluan Bapak, dan juga rumah ini. Boleh?" tanyaku lagi dengan berat dan ragu.
Adryan langsung tersenyum seraya menghela napas sambil menunduk.
"Jadi soal itu? Ya ampun," ucapnya lalu menghela napas lagi.
Adryan lalu menyentuh punggungku dan mengelusnya dengan lembut.
"Itu kan uang kamu, uang gaji kamu, hasil kerja keras kamu. bahkan kamu ga perlu minta izin, kalau kamu mau pakai uang kamu sendiri. Dan aku ga berhak buat ngatur soal keuangan pribadi kamu," sambungnya. Sontak membuatku tersenyum haru.
"Makasih ya, Mas," ucapku.
"Iya. Jadi cuma karena soal ini, kamu jadi galau kayak gini?" tanyanya lagi.
"Ya bukan gitu, Mas. Aku cuma keingat aja, kamu kan waktu itu minta aku buat resign, tapi pas aku pikir-pikir lagi, kayaknya aku masih mau kerja. Lagian, nanti aku bosan juga Mas, kalau di rumah terus," jawabku.
"Yaudah, kalau kamu masih mau kerja. Tapi harus jaga kesehatan yah, jangan sampai kecapean," pesan Adryan.
"Iya, Mas. Makasih ya, Mas," ucapku lagi dengan tersenyum.
"Yaudah. Ini kan udah malem, kita tidur, yuk," ajaknya.
"Yuk," balasku.
Aku dan Adryan akhirnya menutup malam itu dengan tidur. Sebelum tertidur aku menatap ke atas, atap yang seolah sudah lama tak ku tatap dengan sendu, kini kembali menjadi saksi bisu atas semua beban yang tengah ku rasakan.
***
Pagi menjelang membawa cahaya keemasan yang menyelinap lewat jendela.
Seperti biasanya, aku menyiapkan dan menata makanan di meja makan untuk sarapan. Aku belum melihat Rena, sepertinya gadis itu belum bangun, apalagi mengingat Rena yang pulang malam karena harus lembur.
Aku berjalan ke kamar Rena, mencoba melihat dan mengecek apakah dia masih tidur atau sudah bangun. Di depan kamarnya, aku menghela napas sebelum aku mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok.
"Ren...!" panggilku.
Namun tak ada jawaban apapun. Sepertinya gadis itu memang masih tidur. Aku memutuskan pergi dan masuk ke kamarku.
"Mas, kita sarapan yuk," ajakku pada Adryan yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin.
"Iya," balasnya. Senyuman tipis pun mendarat di wajahnya, menambah aura ketampanannya.
Aku dan Adryan pun sarapan bersama. Lalu tiba-tiba saja Bapak datang dan masuk dari pintu belakang.
"Pak. Bapak dari mana?" tanyaku.