Aku dan Adryan kembali pulang ke rumah. Kami baru saja tiba. Aku menaruh tas jinjing besarku dekat nakas.
"Kamu istirahat aja yah, capek, kan?" tanyanya.
"Iya, Mas," jawabku. Aku melihat Adryan yang nampak langsung sibuk dengan gawainya. Ia juga langsung mengambil laptopnya di laci.
"Loh Mas, kamu mau ngapain?" tanyaku.
"Mau ngecek laporan karyawan. Kamu istirahat aja," jawabnya seraya menyentuh lembut pundakku.
"Emangnya kamu ga capek, Mas? Kamu ga mau istirahat, dulu?" tanyaku lagi dan berhasil menghentikan langkahnya yang hendak keluar kamar.
"Aku cuma sebentar kok, cuma mau ngecek laporan aja," jawabnya lagi dengan lembut.
Akhirnya aku hanya menghela napas.
"Oh iya Mas, untuk makan malam, kamu mau dimasakkin apa?" tanyaku lagi.
"Ga usah masak, kita pesan online aja, yah. Kamu sekarang istirahat aja," jawabnya lagi.
Adryan lalu keluar dari kamar.
Lagi-lagi aku menghela napas seraya mematung sebentar. Aku keluar, menyusul Adryan dan dengan diam-diam aku memperhatikan suamiku yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, Adryan nampak memijat-mijat lehernya. Aku tau Adryan juga merasakan lelah, apalagi di jalan tadi cukup macet. Namun ia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya dibanding istirahat meski hanya sebentar. Melihat Adryan seulat dan setekun itu, bahkan di saat hari libur, yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, ia justru memilih untuk mengurus pekerjaannya. Rasanya aku tak tega jika harus meminta uangnya untuk kepentingan rumah bapak, maupun keperluan Bapak. Apalagi secara hukum apapun, Adryan tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahi ataupun mengurus kebutuhan Bapak ataupun Rena.
***
Keesokkan harinya, seperti biasa aku dan Adryan kembali disibukkan dengan pekerjaan.
"Hai, Mir. Baru dateng?" sapa Meyra yang sudah tiba lebih dulu.
"Iya, Mir. Tumben? Biasanya kamu, yang lebih dulu dateng," timpal Rini seraya berjalan menghampiriku dan Meyra.
"Iya. Tadi di jalan lumayan macet soalnya," jawabku seraya menyalakan komputer bersiap untuk bekerja.
"Kamu dianterin Mir, sama suami?" tanya Meyra lagi.
"Oh engga, aku berangkat sendiri. Kalau Adryan nganterin aku, bisa-bisa dia yang telat," jawabku.
"Bukannya suami kamu itu, manager? Ya ga apa-apa dong, kalau telat," timpal Rini lagi.
Aku sontak tersenyum.
"Ya ga gitu juga dong, Rin. Mau jabatannya apapun, namanya kerja ya harus on time," balasku
"Setuju," sahut Meyra.
"Yaa, tapi kalau sesekali kan ga apa-apa juga," seloroh Rini.
Aku lagi-lagi hanya tersenyum seraya sedikit menggeleng.
"Oh iya, Mir. Kamu.. gimana? Jadi, resign?" tanya Meyra. Sontak membuatku menoleh padanya.
Untuk sesaat aku terdiam dan menghela napas.
"Emm. Kayaknya engga, ga jadi," jawabku.
"Ga jadi? Maksudnya?" timpal Rini.
"Iya. Aku ga jadi resign," jawabku lagi.
"Jadi kamu udah ngomong sama suami kamu lagi, Mir? Suami kamu masih ngasih izin buat kamu kerja?" lanjut Meyra dengan semangat.
"Iya. Adryan kan memang bilangnya, ga apa-apa kalau aku masih mau kerja, asal bisa jaga kesehatan," jawabku lagi.
"Syukurlah, Mir. Jadi kita masih bisa ketemu," ucap Meyra. Aku pun tersenyum.
"Ya mendingan kerja lah. Daripada di rumah, lama-lama juga pasti bosan. Lagian yah, perempuan itu emang harus punya penghasilan sendiri, biar kita ga direndahin sama suami atau sama keluarganya," tutur Rini.
Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Rini.
"Eh, eh, eh. Ada Bos, tuh," ujar Meyra seraya melihat ke depan pintu.