Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #66

Rencana kedatangan Mas Panji

Malam turun dengan keheningannya, menyelimuti langit dengan gelapnya yang tenang. 

Rena nampak baru saja pulang.

"Assalamualaikum," ucapnya saat memasuki rumah, namun tak ada sahutan dari siapapun. Sejenak ia berdiri ambang pintu, dan dahinya nampak sedikit mengkerut. Rena menghela napas pelan, lalu melangkah dengan langkah yang lemas. Namun geraknya tiba-tiba berhenti saat ia akan membuka pintu kamarnya. Rena menoleh ke arah dapur dan dahinya lagi-lagi mengkerut. Ia mendengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu. Rena lalu melangkah ke sana.

"Pak," sapanya. 

"Ren. Kamu baru pulang?" balas Bapak. Rupanya Bapak tengah menikmati makan malamnya. Rena nampak menatap makanan yang tersaji di meja makan.

"Tumben. Makanannya banyak, Pak? Bapak abis beli dimana?" tanyanya.

"Engga. Ini semua yang masak Bu Dwi, masakannya enak ternyata Ren," jawab Bapak disela makannya.

"Bu, Dwi?" tanya Rena dengan heran.

"Iya. Kamu udah makan, belum? Kalau belum, ayo makan sekarang, kalau si Benny lihat, ini semua bisa habis dimakan sama dia," ujar Bapak.

 Rena nampak mengendus kesal.

"Rena mau ganti baju dulu, Pak. Gerah," sahutnya lalu melengos ke kamarnya.


***

Sementara itu, aku dan Adryan juga tengah makan malam bersama. Hanya ada dentingan suara sendok dan piring yang saling beradu karena kami berdua fokus dengan makanan masing-masing.

"Oh iya, besok kan tanggal merah, rencananya Mas Panji katanya mau datang ke sini," ujar Adryan disela makannya.

Aku sontak langsung menoleh padanya.

"Mas Panji, Mas?" tanyaku sedikit terkejut.

"Iya. Katanya dia mau nengokin kita, sama mau lihat rumah ini juga," jawabnya lalu minum.

"Liat rumah ini, Mas?" tanyaku lagi dengan heran.

"Iya. Mas Panji kan belum pernah ke sini. Sebenarnya Mas Panji itu udah lama mau ke sini, mau lihat rumah ini katanya, tapi karena dia selalu sibuk, ya ga jadi terus. Jadi rencananya, besok Mas Panji sama istrinya mau datang ke sini, karena besok kan tanggal merah, mereka libur," jelas Adryan.

Untuk sejenak aku terdiam sekaligus tertegun.

"Terus, aku mesti ngapain, Mas?" tanyaku.

Adryan sontak menoleh padaku dengan dahinya yang nampak mengkerut.

Lihat selengkapnya