Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #67

Kedatangan Mas Panji

Aku mencuci tangan setelah selesai membersihkan rumah dan dapur. Kini dapurku sudah kembali bersih dan kinclong.

Ting nong...!" 

Suara bel berbunyi, seketika langkahku menuju kamar terhenti, aku pun menoleh ke arah pintu depan. Aku terdiam sejenak dengan dahi yang mengkerut. 

"Assalamualaikum," ucap seorang lelaki di luar sana. Mataku sontak langsung melebar, sepertinya memang ada yang datang. 

"Siapa yang datang? Jangan-jangan Mas Panji sama istrinya?" batinku. 

Aku pun gegas bersiap, merapikan penampilan mengganti baju serta hijabku. 

"Assalamualaikum," ucapnya lagi. Namun kini, terdengar seperti suara perempuan. Kini aku sangat yakin, bawah itu pasti Mas Panji dan istrinya. 

"Ya ampun, Mas Adryan belum pulang lagi," batinku lagi. Setelah merasa rapi, aku buru-buru membuka pintu.

"Waalaikumsalam," jawabku lalu membuka pintu.

"Eh, Mas. Mbak," sapaku dengan tersenyum kaku.

"Mira," ucap istri Mas Panji.

"Silahkan masuk, Mas, Mbak," ajakku.

Mas Panji dan istrinya pun masuk, mereka nampak melihat-lihat penampakan dan suasana rumah. 

"Maaf ya, Mas, Mbak, tadi lagi di kamar soalnya," ungkapku.

"Iya, ga apa-apa," balas istri Mas Panji. Wanita cantik itu selalu tersenyum padaku.

"Oh iya, Mas, Mbak. Mau minum apa? Biar saya buatkan," tanyaku.

"Air putih aja," jawab Mas Panji.

"Iya, air putih aja," timpal istrinya.

"Sebentar ya Mas, Mbak," izinku.

Aku pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Karena hanya air putih, tak butuh waktu lama, aku segera kembali untuk mengantarkan minuman. 

"Ini Mas, Mbak. Silahkan diminum dulu," ucapku.

"Iya, terima kasih," ucap Mas Panji.

"Makasih, yah," timpal istrinya. Selain selalu tersenyum, wanita itu juga selalu bersikap ramah padaku.

"Oh, iya. Adryan mana, yah? Kok belum keliatan?" tanya Mas Panji.

"Oh, itu... Mas Adryan katanya lagi meeting Mas, di luar," jawabku sedikit gugup.

"Meeting? Ini kan tanggal merah?" tanya Mas Panji lagi. 

"Iya, Mas. Katanya cuma sebentar, kebetulan kepala divisi pemasaran mau nyerahin laporannya," jawabku lagi. 

Mas Panji nampak menghela napas kasar seraya sedikit menunduk.

"Memangnya dia meeting dimana? Kalau cuma mau nyerahin laporan, kenapa ga di rumah aja?" lanjut Mas Panji.

"Sebenarnya saya juga tadi udah ngomong kayak gitu Mas, sama Mas Adryan, tapi katanya ada hal yang harus didiskusikan langsung. Kebetulan juga, meetingnya ga jauh, masih di sekitar sini,” jelasku.

“Di sekitar sini?” tanya Mas Panji seraya mengernyit.

“Iya, Mas. Di kafe seberang jalan perumahan ini, namanya kafenya rumah makan saung senja," jelasku lagi.

"Saung senja? Oh pantesan aja, tadi Pah, di depan jalan sana aku liat ada pemuda, berapa orang gitu, kayak lagi kumpul. Aku juga sempat ngenalin Adryan dari belakang, tapi karena ga liat wajahnya aku jadi ragu ngasih tau kamu. Takut salah orang," sahut istri Mas Panji.

Mas Panji nampak menghela napasnya.

"Padahal kan kita udah bilang, mau datang ke sini," keluh Mas Panji.

Lihat selengkapnya