Malam turun perlahan dengan keheningan yang menenangkan. Udara malam terasa sejuk, angin berhembus pelan melalui celah jendela, menyentuh kulit dengan lembut.
Ting nong...!"
Terdengar suara bel berbunyi.
Seketika gerakku terhenti saat hendak menata makanan. Aku menoleh ke arah pintu depan dengan dahi yang mengkerut. Apa aku tidak salah dengar? pikirku.
Ting nong...!"
Bel berbunyi lagi.
"Sepertinya memang ada tamu yang datang? Apa Mas Panji? Mas Panji datang ke sini lagi?" batinku.
Aku menata kembali dulu makanan di meja makan agar terlihat rapi. Lalu gegas membuka pintu.
Ting nong...!"
Lagi-lagi bel berbunyi untuk kesekian kalinya.
"Iya, sebentar," sahutku lalu geas membuka pintu.
Seketika mataku langsung melebar dan melotot, tatkala membuka pintu lalu melihat siapa tamu yang datang.
"Rena?" ucapku terkejut. Aku tercengang dan tergangga melihat Rena berdiri di depan pintu. Ia juga membawa tas jinjing besar, persis seperti orang yang ingin kabur.
"Mbak," ucapnya seraya tersenyum.
"Ren, kamu ngapain?" tanyaku yang masih terkejut dan juga heran.
"Mbak, emm, aku... boleh ga nginep di sini?" tanyanya.
Aku pun semakin tercengang mendengarnya.
"Nginep?" tanyaku yang lagi-lagi terkejut.
"Iya. Aku... disuruh pindah tugas Mbak, di cabang toko yang di kota," jawabnya.
"Pindah tugas?” tanyaku mengernyit.
Rena nampak mengangguk seraya mengulum senyumynya.
“Iya, Mbak. Aku mendadak dipindah tugasin. Aku nginep di sini dulu ya Mbak, soalnya… kalau aku harus bolak-balik ke rumah Bapak, gaji aku ga cukup buat ongkosnya, Mbak tau sendiri gaji aku berapa. Tadi aku juga udah izin sama Bapak, terus aku juga udah cek di maps, ternyata tempat kerja baru aku, ga jauh dari sini, Mbak,” jelas Rena.
Aku masih merasa terkejut sekaligus juga bingung.
"Ren, tunggu. Ini.. kamu dapat alamat Mbak di sini, tau dari mana?" tanyaku.
"Dari Mbak Rita," jawabnya.
"Mbak Rita?” balasku.
“Terus Mbak Rita tau, kalau kamu ke sini? sambungku.
Rena hanya mengulum senyumnya.
“Mbak, aku mohon yah, aku boleh nginep disini. Cuma sementara kok, nanti kalau toko barunya udah ada karyawan baru, aku bakal balik lagi ke toko yang lama,” pinta Rena.
Aku menarik napas dalam dan masih merasa bingung.
"Sayang, siapa?" sahut Adryan menghampiri.
"Loh!" ucap Adryan terkejut dan juga bingung melihat Rena.
"Mas," sapa Rena.
"Mas. Ini... Rena, dia katanya... lagi pindah tugas ke kota," ucapku gemetar sekaligus juga bingung dan gugup.