Di rumah Bapak.
Tok, tok, tok.
"Ren, bangun Ren…!” panggil Bapak. Namun seperti biasanya, tak ada jawaban apapun.
"Ren bangun, ini sudah siang Ren..!" panggil Bapak lagi.
Tok, tok, tok.
"Ren, Rena...! Kamu ga mau siap-siap berangkat kerja?" karena tak ada respons dan tak mau menunggu lama, Bapak langsung menekan pintu gagang kamar Rena.
Seketika mata Bapak membulat saat melihat kamar Rena yang nampak kosong.
"Kenapa, kosong? Kemana anak itu?" gumam Bapak.
"Apa sudah berangkat? Tapi tumben ga keliatan," sambung Bapak seraya berpikir.
Namun saat Bapak akan menutup pintu, Bapak tak sengaja menoleh pada lemari baju Rena yang nampak sedikit terbuka. Karena merasa penasaran, Bapak lalu masuk dan membuka lemari baju milik Rena.
"Loh, kenapa bajunya cuma sedikit?" pikir Bapak. Bapak terdiam untuk seperkian detik dengan dahi yang nampak mengernyit. Seketika Bapak teringat ucapan Rena yang mengatakan bahwa dirinya dipindah tugaskan ke kota.
"Semalam Rena bilang, dia sekarang sudah pindah kerja di kota. Loh...," pikir Bapak lagi.
Bapak nampak masih berdiri dan seolah mematung.
"Assalamualaikum," ucap Mbak Rita. Bapak pun langsung menoleh.
"Paak...!" panggilnya. Mendengar itu Bapak langsung keluar dari kamar Rena dan menghampiri Mbak Rita.
"Pak, ini Rita bawain kue gabin tape buat Bapak. Bapak kan suka banget sama ini," ujar Mbak Rita seraya menyodorkan piring berisi kue kesukaan Bapak.
"Iya. Kamu taruh aja di meja makan yah, nanti Bapak makan," suruh Bapak.
"Yaudah, Rita taruh di meja makan yah," ucap Mbak Rita.
Mbak Rita pun menaruh kue itu di meja makan. Namun geraknya seolah terhenti setelah meletakkan piring itu, dahi Mbak Rita nampak sedikit mengernyit seolah teringat sesuatu. Ia lalu kembali menghampiri Bapak yang tengah duduk di teras.
"Pak, tapi... kuenya cuma segitu, ga banyak. Nanti kalau ada si Benny sama Rena liat, bisa abis sama mereka, terus Bapak ga kebagian deh. Simpan di kamar Bapak aja, gimana?” usul Mbak Rita.
"Sudah. Mereka ga akan makan kuenya," balas Bapak lalu menghela napas kasar.
Wajahnya Bapak tampak seperti sedang bingung. Dahi Bapak berkerut dalam, terdiam seraya menatap ke depan. Tatapannya pun nampak berpindah dari arah satu ke arah lainnya seolah tengah mencari jawaban.
"Kenapa, Pak? Tumben, biasanya juga yang suka ngabisin anak dua itu," seloroh Mbak Rita seraya duduk di kursi samping Bapak.
"Itu dia. Si Rena itu ternyata ga ada di kamarnya. Kalau si Benny baru pulang semalam, ga tau pulang ke sini lagi kapan. Emang dasar anak-anak ga bisa diatur," keluh Bapak dan lagi-lagi nampak menghela napas kasar.
"Rena ga ada di kamarnya, Pak? Loh, memangnya dia belum pulang kerja?” tanya Mbak Rita.
"Sudah. Semalam dia baru pulang, terus di cerita kalau dia dipindah tugaskan kerjanya ke kota,” jawab Bapak.
“Pindah tugas ke kota, Pak?” tanya Mbak Rita lagi. Ia juga nampak mengernyit kebingungan.
“Iya. Katanya di kota lagi buka cabang toko baru. Terus sekarang.. kayaknya anak itu kabur ke rumahnya Mira,” jelas Bapak.
"Kabur? Kabur ke rumah Mira? Maksud apa, Pak? Siapa yang kabur?" tanya Mbak Rita tak mengerti dan nampak semakin bingung.
"Ya si Rena, siapa lagi," jawab Bapak.
"Rena, Pak?" tanya Mbak Rita lagi yang seolah tak percaya.