Malam pun turun, menyelimuti bumi dengan warnanya yang gelap.
Seperti biasa, aku menyiapkan makanan di meja makan untuk makan malam. Adryan pun lalu menghampiri.
"Mas, kita makan yuk," ajakku.
Adryan duduk seraya melihat menu makanan di meja. Aku menuangkan nasi untuknya.
"Adik kamu mana? Dia ga makan?" tanya Adryan.
Aku langsung menghela napas.
"Rena belum pulang, Mas. Dia katanya masuk shift siang, jadi pulangnya malam. Katanya sih, paling lambat jam 9 sampe sini," jelasku seraya menuangkan sayur untuk Adryan.
Adryan nampak mengangguk pelan.
"Oh iya, kamu itu sering yah, ngobrol sama adik kamu itu?" tanyanya lagi.
"Engga juga sih, Mas. Rena kan kerja, dia sibuk juga, jadi aku sama dia ngobrol, ya kalau lagi perlu aja," jawabku.
Adryan nampak menghela napas seraya mengangguk pelan lagi.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanyaku.
"Ga apa-apa," jawabnya tersenyum kecil.
***
Malam semakin gelap dan sunyi, terasa begitu mengancam. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.50. Tapi Rena belum juga pulang.
"Kemana gadis itu? Kenapa dia belum pulang?" batinku cemas seraya menatap ke luar jendela.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Adryan menghampiriku.
"Aku lagi nungguin Rena, Mas. Dia belum pulang," jawabku.
"Belum pulang? Loh, bukannya kata kamu jam 9 pulangnya?" tanya Adryan lagi seraya melihat jam dinding yang terus saja berdetak.
"Itu dia, Mas. Aku juga ga tau, aku udah kirim pesan sama nelpon juga, tapi ga di angkat," ungkapku
Ting Nong...!"
Tiba-tiba saja bel berbunyi.
"Mas, itu pasti Rena," ujarku lalu gegas membuka pintu, dan benar saja ternyata itu memang Rena.
"Ren. Loh, kamu baru pulang?" tanyaku.
"Iya, Mbak, Maaf yah. Tadi di toko rame banget, terus di jalan pas pulang juga macet, gara-gara ada yang kecelakaan," jawabnya. Rena nampak juga terlihat lemas dan lesu.
Aku menghela napas panjang, lalu dihembuskan dengan pelan sambil menatap syukur pada Rena. Aku merasa lega karena Rena sudah pulang, dan dia baik-baik saja.
"Yaudah. Sekarang kamu masuk, terus istirahat. Terus, kalau kamu mau makan, makan aja yah sendiri di meja makan," ucapku.
"Iya, Mbak. Kalau gitu aku ke kamar ya, Mbak," balasnya.
"Iya, kamu istirahat yah,” ucapku lagi seraya menyentuh dan mengusap bahu Rena.