Pagi hari di perkampungan yang seolah terasa begitu damai. Cahaya matahari perlahan menyelinap di antara dedaunan dan pepohonan, menebarkan kehangatan yang lembut. Udara masih segar, Mbak Rita nampak berjalan sendirian, di bawah kakinya seolah dipenuhi aroma tanah basah dan wangi bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan. Mbak Rita berjalan perlahan dengan diiringi suara ayam berkokok yang saling bersahutan.
"Mbak Rita, mau kemana pagi-pagi gini?" sahut salah satu tetangga seraya menjemur pakaiannya di halaman.
"Mau ke warungnya Bu Ningsih, mau beli sarapan," jawab Mbak Rita.
"Oh, gitu,” balas tetangga.
“Mari, Bu,” ucap Mbak Rita.
“Ya,” balasnya lagi.
Para tetangga memang dikenal sangat ramah. Namun mereka juga suka bergosip dan menghibah jika sedang berkumpul.
Di bawah rindangnya pepohonan, kampung Bapak memang terasa hidup dan nampak tenang. Hujan deras semalam menyisakan kesejukkan, tanah yang masih lembap mengeluarkan aroma khas bumi yang basah. Anak-anak tampak mulai berlarian, daun-daun pisang dan kelapa meneteskan sisa air hujan, jatuh perlahan ke tanah menambah kesejukan suasana.
"Assalamualaikum, Bu Ningsih," ucap Mbak Rita.
"Waalaikumsalam. Eh Mbak Rita, mau beli nasi uduk, yah?" balas Bu Ningsih.
"Iya lah Bu, seperti biasa," jawab Mbak Rita.
"Siap. Berapa bungkus?" tanya Bu Ningsih seraya merapikan gelas dan mengelap mejanya.
"3 bungkus aja, Bu," jawab Mbak Rita lagi.
"Siap. Duduk dulu aja, yah," ujar Bu Ningsih.
Mbak Rita duduk di bangku kayu sederhana, di sampingnya ada bekas piring dan gelas kotor, ia hanya menatapnya sebentar. Mbak Rita menarik napas panjang menghirup udara yang sejuk di warung Bu Ningsih. Aroma gurih santan seolah menggoda lidah, namun Mbak Rita harus menunggu dulu pesanannya.
"Assalamualaikum, Bu Ningsih," ucap Bu Santi yang tiba-tiba datang. Wanita paruh baya dengan penampilan yang selalu nyentrik dan rapi, sontak membuat Mbak Rita langsung menoleh padanya. Tubuh Mbak Rita nampak menegang dan mematung seolah terkejut dengan kehadiran Bu Santi.
"Waalaikumsalam, Bu Santi," balas Bu Ningsih dengan ramah.
"Eh, ada Rita ternyata," ujar Bu Santi menoleh pada Mbak Rita.
"Bu Santi," ucap Mbak Rita lalu menyelami tangan wanita itu.
"Lagi ngapain? Mau sarapan, yah?" tanya Bu Santi.
"Iya, Bu," jawabnya.
"Iya. Mbak Rita lagi nunggu pesanan uduknya. Maaf yah Mbak, agak lama, soalnya orek tempenya belum mateng," ucap Bu Ningsih.
"Iya Bu Ningsih, ga apa-apa," balas Mbak Rita.
"Rit, gimana kabarnya, sehat?" tanya Bu Santi.