Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #75

Pesan dan perhatian Mbak Rita

Mbak Rita nampak melangkah cepat. Wajahnya terlihat menegang menahan emosi, alisnya berkerut dan bibirnya mengeras. Sesekali terdengar hembusan napas kasarnya seolah penuh kejengkelan, dan setiap hentakan kakinya seolah memantulkan kekesalan yang ia rasakan, membuat orang yang di sekitarnya dapat merasakan aura kesal dari dirinya.

Seketika langkahnya terhenti, tepat di depan rumah Bapak. Mbak Rita menarik napas panjang lalu gegas masuk ke dalam rumah Bapak.

"Pak..!" panggilnya. Namun ada tak yang menyaut.

Tiba-tiba Bu Dwi keluar membawa ember berisi pakaian cuciannya. 

“Assalamualaikum,” ucap Mbak Rita. 

"Waalaikumsalam. Eh, Mbak Rita,” balas Bu Dwi.

“Bu Dwi,” ucap Mbak Rita sedikit mengernyit. 

“Tumben Mbak, pagi-pagi ke sini?" tanya Bu Dwi.

"Bapak ada, Bu?" balas Mbak Rita.

"Oh ga ada, Mbak. Bapak tadi abis sarapan langsung keluar kayaknya," jawab Bu Dwi.

"Keluar? Keluar kemana?” tanya Mbak Rita mengernyit.

"Wah, kalau itu saya kurang tau, Mbak. Soalnya kan Bapak ga pernah ngomong," jawab Bu Dwi lagi. 

Mbak Rita nampak menghela napasnya lagi seraya tersenyum kecil.

"Permisi, ya Mbak. Mau jemur pakaian dulu," ucap Bu Dwi.

"Iya," balas Mbak Rita. 

Mbak Rita terdiam sejenak seraya lagi-lagi menghela napasnya. Pandangannya seolah jauh menerawang, ia lalu memutuskan untuk keluar dari rumah Bapak. 

Mbak Rita melangkah cepat memasuki rumahnya. Ia meletakkan bungkusan nasi uduknya di meja makan lalu gegas masuk ke kamarnya. Mbak Rita langsung menyambar benda pipihnya yang ada di atas meja riasnya. 

***

Aku pun masuk ke dalam kamar, lalu terdengar ponselku yang tiba-tiba berdering. Aku menoleh dan langsung meraih ponselku di atas nakas. 

"Mbak Rita?" ucapku saat melihat layar ponselku.

"Halo. Assalamualaikum, Mbak," ucapku.

"Waalaikumsalam, Mir," balas Mbak Rita.

"Mir, kamu lagi ngapain? Sibuk ga?" tanya Mbak Rita.

"Engga sih, Mbak. Aku baru aja selesai cuci piring. Kenapa Mbak?" balas sedikit mengernyit.

Mbak Rita lalu duduk dan nampak menghela napasnya.

"Mir, Rena... gimana? Dia baik-baik aja, kan di rumah kamu?" tanyanya.

Lihat selengkapnya