Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #76

Rena berulah lagi

Langit malam membentang luas dengan taburan bintang yang menghiasinya. Sunyi malam perlahan seolah menyelimuti suasana. Aku masuk ke kamar bersiap untuk tidur, dahiku langsung mengkerut saat melihat Adryan tengah sibuk dengan tasnya.

"Mas, kamu lagi ngapain?" tanyaku seraya melangkah mendekatinya. 

"Eh, sayang. Ini, aku lagi siap-siap buat besok," jawabnya seraya meletakkan tasnya di bawah ranjang. Tas itu nampak sudah rapi dengan ukuran sedang namun terlihat penuh 

"Besok? Emangnya ada apa, Mas besok?” tanyaku lagi.

Adryan nampak tersenyum kecil seraya menunduk.

"Maaf yah, aku belum bilang sama kamu. Besok itu ada acara kantor, keluar kota. Acaranya mendadak banget, untungnya sih, ga nginep. Tapi kemungkinan pulangnya malam. Maaf yah sayang, aku baru ngasih tau sekarang, aku benar-benar lupa,” jelasnya. 

Aku langsung tersenyum pada suamiku itu.  

"Iya Mas, ga apa-apa. Tapi, emang acara apa, Mas?" tanyaku lagi.

"Acara kumpul-kumpul biasa, yang ikut cuma kepala perdivisi aja. Ini kan mau mendekati akhir tahun, jadi mereka bikin acara gitu. Ini juga bisa dibilang, kayak rutinitas tiap tahun. Kumpul, sekalian healing juga," jelasnya lagi. 

"Ooh..," ucapku sedikit mengangguk.

"Oh iya, jam tangan aku dimana, yah? Kamu liat ga? Aku cari-cari ga ada,” tanyanya. 

Aku gegas membuka laci lalu mengambil jam tangan Adryan yang ku simpan di sana.

"Ini, Mas," ucapku seraya menyerahkannya.

"Ada di kamu ternyata. Kamu liat dimana?" tanyanya lagi.

"Di kamar mandi, Mas. Kamu pasti lupa ga dibawa lagi," jawabku.

Seketika Adryan tersenyum seraya menghela napasnya. 

"Makasih ya, sayang," ucapnya lembut. 

"Sini Mas, biar aku bantu beresin tasnya. Mana lagi yang mau dibawa?" tanyaku seraya sedikit mengedarkan mata.  

"Udah. Udah selesai kok,” balasnya seraya menyentuh kedua tanganku.

“Kamu sekarang istirahat aja, yah. Aku mau minum dulu, haus," sambungnya.  Aku hanya mengangguk seraya tersenyum lagi. 

Adryan lalu keluar kamar, ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Adryan mengambil gelas lalu menuangkan air putih dan langsung meneguknya. Namun, tiba-tiba saja dahinya berkerut dan ia pun tersendak.

"Uhuk, uhuk...!" 

"Eh Mas, maaf Mas," ucap Rena yang hendak ke dapur juga. Rena nampak panik dan bingung. 

"Kamu ngapain di sini?" seru Adryan.

"Aku... aku mau ngambil minum, Mas," jawab Rena

Adryan langsung memalingkan wajahnya saat dirinya melihat Rena yang memakai celana pendek. Tak lama kakinya pun mulai melangkah lagi. 

"Kalau mau keluar kamar, kalau bisa pake baju yang sopan. Kalau perlu pake hijab," ucap Adryan dengan posisi yang membelakangi Rena, lalu gegas kembali ke kamarnya.

Saat masuk ke kamar, Adryan berdiri di depan pintu dengan napas yang seolah tersenggal. Membuat dahiku berkerut karena heran.

"Mas, kamu kenapa?" tanyaku seraya bangun lalu duduk di ranjang menatap Adryan

"Ga apa-apa. Cuma kaget aja, tadi tiba-tiba aja adik kamu ke dapur," jawabnya seraya melangkah duduk di sampingku. 

"Rena, Mas?" tanyaku lagi. 

"Iya. Tadi juga dia pake celana pendek. Aku kasih tau dia, aku bilang kalau mau keluar kamar, kalau bisa pake pakaiannya yang sopan sama hijab. Ga apa-apa kan, aku ngomong gitu ke adik kamu?" balasnya seolah merasa sungkan dan bersalah. 

"Ya ampun Rena. Ya ga apa-apa dong Mas. Justru bagus, kamu ngomong kayak gitu. Padahal aku udah berapa kali kasih tau dia Mas, biar dia tuh lebih sopan kalau di sini," ucapku lalu menghela napas. 

Lihat selengkapnya