Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #77

Kedatangan Panji dan Istrinya

Matahari tergantung tinggi di langit, menyinari bumi dengan cahayanya yang terik. Udara terasa lengket di kulit, menandakan puncak siang yang tak terbantahkan. 

Aku memilih untuk berdiam di kamar, bersandar ke dipan ranjang sambil membaca buku. Tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang, seketika aku melirik pada jam dinding yang berdetak, jarum jam menunjukan hampir pukul 12.00, menandakan setengah dari hari telah dilewati. Aku menghela napas sejenak lalu menutup buku. Aku beranjak hendak mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah wajib. Namun tiba-tiba langkahku terhenti, aku teringat pada Rena, bukankah dia akan berangkat bekerja? Lagi-lagi aku menghela napas, dan memilih untuk menunaikan ibadah dulu. 

Sementara di kamarnya, Rena tengah memilih baju untuk ia kenakan. Dahinya nampak berkerut, bibirnya terkatup rapat seraya helaan napas yang ia keluarkan lewat hidung, menunjukkan kebingungannya atas baju-baju yang terhampar di ranjang. Gadis manja itu menatap baju-baju itu dengan bingung. Lalu tiba-tiba bel pintu berbunyi, Rena yang mendengarnya pun sontak menoleh, ia lalu melangkah ke dekat jendela, lalu melihat sepasang suami istri yang berdiri di depan pintu, sontak membuat dahinya langsung mengkerut lagi.

Lagi-lagi bel berbunyi. Rena pun langsung keluar untuk membuka pintu. 

"Assalamualaikum," ucap suara lelaki dari luar. 

"Waalaikumsalam," jawab Rena lalu membuka pintu. 

Deg...!

Seketika Mas Panji dan istrinya tertegun, keduanya terdiam mematung seraya menatap Rena dari bawah kaki hingga ke atas kepalanya. Mas Panji dan istrinya pun saling pandang, alis keduanya pun terangkat nyaris bersamaan, dahinya berkerut pelan dan bibirnya yang nampak sedikit terbuka. Sementara Rena nampak berdiri, ia hanya terdiam seraya menatap sepasang suami istri di depannya yang memandangnya dengan tatapan heran. Untuk sesaat keheningan menggantung bersama mereka.

"Kamu... siapa?" tanya Mas Panji. Dahi Rena pun langsung berkerut. 

"Saya... Rena. Adiknya, Mbak Mira. Maaf, Bapak sama Ibu, siapa yah?" balasnya dengan nada sedikit ragu.

"Saya kakaknya Adryan," jawab Mas Panji dengan tegas namun juga tenang. 

Seketika tubuh Rena menegang, matanya nampak membulat penuh dan napasnya tiba-tiba tersengal.

"Apa Adryan ada?" tanya Mas Panji.

"Umm. Mas Adryan... Mas Adryan, dia lagi...," 

"Ren, kamu lagi ngapain?" sahutku melihat Rena yang berdiri di depan pintu.

Perlahan aku melangkah ke arah Rena. Tak sampai di depan pintu, langkahku terhenti dan mataku dibuat terkejut oleh dua orang yang berdiri di depan pintu bersama Rena.

"Mas Panji?" batinku. Seketika tubuhku pun mendadak menegang. Namun aku menyadari dan tak ingin membuang waktu, aku gegas menghampiri.

"Mas, Mbak," sapaku dengan napas yang tiba-tiba ikut tersengal.

"Mira. Dia ini... adik kamu?" tanya Mas Panji. Aku langsung menoleh pada Rena, aku menelan salivaku saat melihat baju yang dikenakan Rena. 

"I-iya, Mas," jawabku gugup. Aku langsung menunduk seraya menghela napas lagi. 

"Silahkan masuk, Mas, Mbak," ucapku.

Lihat selengkapnya