Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #80

Permintaan Adryan

Adryan nampak menarik napas pelan seraya menatapku dengan tatapan tak biasa.

"Kita duduk dulu, yah," pintanya lalu menarik pelan tanganku untuk duduk di kursi samping taman.

"Sebenarnya kamu mau ngomong apa, Mas?" tanyaku seraya menatap lekat suamiku itu.

Adryan nampak menghela napasnya seraya mengatur posisi duduknya seolah agar terlihat nyaman.

"Gini sayang. Aku sebenarnya... mau bahas soal adik kamu," jawabnya.

Aku langsung mengernyitkan dahi.

"Adik aku? Maksudnya Rena, Mas?" tanyaku lagi.

"Iya. Aku kepikiran, dan aku punya usul, gimana kalau... adik kamu itu kita suruh, ngekos," pintanya.

Aku merasa tercengang. Terdiam sesaat dan untuk sejenak pandanganku seolah memudar untuk mencerna ucapan dan permintaan Adryan itu.

"Kenapa kamu... tiba-tiba, bahas soal ini, Mas?" tanyaku lagi.

"Apa jangan-jangan, Rena bikin ulah lagi yah, sama kamu? Di ngapain, Mas?" sambungku dan merasa cemas.

"Engga, sayang, engga. Engga kok, adik kamu, ga bikin ulah apa-apa," jawabnya.

"Terus, kenapa kamu kepikiran buat nyuruh Rena ngekos?" tanyaku lagi.

Tiba-tiba aku langsung teringat dengan Mas Panji dan istrinya yang berkunjung ke rumah.

"Mas, apa ini... permintaan, Mas Panji?" tanyaku.

Adryan nampak langsung mengernyitkan dahinya.

"Mas Panji?" balasnya.

"Iya. Kemarin Mas Panji sama istrinya tiba-tiba datang ke sini, dan kebetulan waktu itu Rena yang bukain pintunya," jelasku lagi.

Adryan langsung menghela napas kasar seraya menunduk.

"Mas, aku bener-bener ga tau, Mas. Kemarin tiba-tiba aja Mas Panji sama istrinya datang ke sini, dan aku juga ga tau kalo Rena yang bakalan bukain pintu. Mas, aku minta maaf ya, Mas,” jelasku lagi. 

Adryan lagi-lagi menghela napasnya lagi seraya mengangkat kepalanya menatapku.

“Yaudah, ga apa-apa. Toh, ini bukan salah kamu juga,” ucap Adryan.

“Jadi bener, Mas. Ini permintaannya Mas Panji? Jadi Mas Panji ngabarin kamu, Mas? Dia cerita apa aja?” cecarku. 

“Engga. Ini bukan permintaan Mas Panji, ini permintaan aku, kemauan aku sendiri. Aku emang sempet ketemu sama Mas Panji, terus ngobrol juga. Tapi Mas Panji ga cerita apa-apa, dia cuma ngasih tau aku aja dan ngingetin aku, soal Rena, adik kamu,” jelas Adryan.

Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi.

“Ngasih tau sama ngingetin kamu soal Rena, Mas? Maksudnya?” tanyaku lagi. 

“Iya. Kata Mas Panji, menurut dia, kurang baik kalau adik ipar nginep lama-lama di rumah kakak iparnya. Apalagi kemarin itu Mas Panji lihat pakaian Rena yang menurutnya kurang sopan,” jelasnya lagi. 

Aku langsung terdiam dan menghela napas lagi. Sudah kuduga, Mas Panji pasti akan membahas soal ini pada Adryan.

“Sayang. Hey, kok diam?” tanya Adryan. Aku langsung tersenyum kecil padanya.

“Ga apa-apa kok, Mas,” jawabku.

Lihat selengkapnya