Langit malam mulai membentang di langit, gelapnya membawa ketenangan yang berbeda, menghadirkan suasana sunyi yang damai.
Aku menata makanan di meja makan, lalu Adryan pun datang menghampiri.
“Mas, kita makan yuk,” ajakku
Adryan nampak tersenyum kecil lalu ia pun duduk.
“Adik kamu mana? Dia ga ikut makan?” tanyanya dengan mengangkat pandangannya sekilas.
“Rena, kayaknya masih di kamar Mas. Aku panggilin dulu, yah,” jawabku.
“Oh, iya. Besok kita jadi kan, ke rumah Bapak?” tanya Adryan lagi.
“Ke rumah Bapak?” balasku seraya menatap Adryan.
“Iya, kita kan mau...,” balas Adryan menggantung
“Oh, iya. Besok kan kita mau ngomongin soal Rena, yah,” ujarku.
Adryan nampak menghela napas pelan.
“Yaudah, kita sekarang makan dulu aja, yah,” ucapnya.
“Umm. Tapi Mas, aku... belum ngomong sama Rena soal rencana kita ke rumah Bapak besok,” ucapku.
Adryan nampak mengernyitkan dahinya. Ia nampak terlihat bingung.
“Belum ngomong? Maksudnya?” tanyanya.
“Tunggu. Kalo aku ngomong ke Rena soal permintaan Adryan yang mau dia ngekos, kira-kira gimana respon Rena? Dia pasti ngiranya itu permintaan aku. Terus Rena juga pasti nanti ngomong yang macem-macem lagi,” batinku.
“Hei, sayang. Kok kamu malah diam?” tanya Adryan seraya menyentuh tanganku.
“Oh, engga kok, Mas. Ga apa-apa, aku panggil Rena dulu, yah,” jawabku.
Aku lalu gegas ke kamar Rena.
Tok, tok tok.
“Ren…!” panggilku.
“Ren, makan malam dulu, yuk,” sahutku.
Tak lama pintu pun dibuka dari dalam.
“Iya, Mbak. Kenapa?” tanyanya dengan nada malas.
“Kita makan malam yuk, Mas Adryan juga udah di meja makan tuh,” ajakku.
“Duh, Mbak. Mbak aja deh, sama Mas Adryan, aku lagi males. Lagian jam segini aku belum lapar. Aku nanti makan sendiri aja kalo lapar,” balasnya.
Aku mengendus pelan lewat hidung.
“Oh iya, Mbak sama Mas Adryan, rencananya besok mau ke rumah Bapak. Kamu mau ikut atau…?” tanyaku menggantung.
“Ke rumah Bapak, Mbak?” potong Rena.
“Iya,” balasku.
“Ngapain Mbak ke rumah Bapak?” tanyanya.
“Yaa.. main aja, mampir. Mbak kan udah lama ga kesana. Kamu mau ikut?” balasku.
“Duh. Kayaknya ga bisa Mbak, besok aku kerja, masuk shift pagi,” jawabnya.
Aku menghela napas pelan lagi.
“Yaudah. Besok kalo Mbak sama Mas Adryan berangkat duluan, kamu kunci aja pintunya, yah. Lagian Mbak juga kayaknya ga nginep di rumah Bapak,” jelasku.
Rena nampak tersenyum kecil seraya sedikit mengangguk.
“Yaudah, kalo gitu Mbak mau makan malam dulu, yah,” ucapku.
“Iya, Mbak,” balasnya.