Di dalam kamar, aku dan Adryan berbaring berdampingan. Aku menatap langit atap kamarku, sementara Adryan berbaring seraya menatap ponsel di tangannya. Aku dan Adryan sama-sama beristirahat setelah menjalani perjalanan yang lumayan jauh. Suasana nampak damai dan tenang, membuat tubuh dan pikiran kembali rileks.
“Mas, kamu laper ga?” tanyaku.
“Umm, lumayan, sih,” jawabnya.
Aku pun langsung terbangun.
“Kamu mau makan, apa?” tanyaku.
Adryan ikut terbangun lalu menghela napas pelan seraya tersenyum padaku.
“Apapun yang kamu sediakan, Insya Allah aku makan,” jawabnya dengan lembut.
Aku pun sontak tersenyum haru.
“Yaudah, aku cek ke meja makan dulu ya, Mas,” ucapku.
“Eh, sayang tunggu!” ucap Adryan seraya menahan lenganku.
“Kenapa, Mas?” tanyaku.
“Kamu.. tadi belum jawab pertanyaan aku loh, soal.. Bu Dwi,” balasnya.
Aku sontak mengernyit.
“Bu Dwi? Emang… ada apa Mas, sama Bu Dwi?” tanyaku.
“Bu Dwi.. kerja disini? Di rumah ini? Sejak kapan?” tanya Adryan dengan dahinya yang sedikit berkerut.
“Oh. Umm, itu.. Iya, Mas. Bu Dwi.. emang kerja disini. Udah sebulan lebih,” jelasku.
“Oh, oke. Tapi.. Bu Dwi itu tinggal di daerah disini juga?” tanyanya lagi.
“Iya. Bu Dwi emang orang sini, dan dia itu.. janda,” jawabku.
“Oh, iya? Janda?” tanya Adryan lagi dengan mata yang sedikit membulat.
“Iya. Suaminya udah meninggal, sementara anak-anaknya Bu Dwi masih kecil-kecil,” jawabku lagi.
“Emang Bu Dwi punya anak berapa?” tanyanya lagi.
“Dua. Dan dua-duanya masih sekolah. Sebenarnya.. karena itu juga aku setuju Bu Dwi kerja disini,” ungkapku.
Adryan nampak mengernyitkan dahinya lagi.
“Maksud, kamu?” tanyanya.
“Sebenarnya, awalnya tuh Bapak ngeluh soal rumah. Katanya rumah berantakan semenjak aku pindah dan katanya Bapak juga ga sanggup buat ngurusin rumah ini. Sampai akhirnya Bapak punya ide buat nyari orang untuk bantu urusin rumah ini. Kebetulan Bu Dwi lagi butuh kerjaan, Bapak coba tawarin ke Bu Dwi untuk kerja disini dan Bu Dwi mau, terus sekalian juga buat bantu ekonominya Bu Dwi,” jelasku.