Langit perlahan berubah jingga. Bayangan pepohonan memanjang di atas tanah. Angin sore berhembus lembut, membawa kesejukkan dan rasa damai setelah hiruk pikuk sepanjang hari.
“Pak, Mbak, Mira pamit pulang ya,” ucapku.
“Iya. Kalian hati-hati ya, pulangnya,” ucap Bapak.
“Iya. Kamu tenang aja ya Mir, soal Rena biar Mbak sama Bapak yang urus,” ujar Mbak Rita.
Aku menghela napas pelan seraya menatap kakak kedua ku itu.
“Tapi Mbak jangan keras-keras yah, ngomongnya sama Rena. Kasihan dia,” pintaku.
“Iya. Udah kamu tenang aja, kamu fokus aja sama rumah tangga kamu,” balas Mbak Rita dengan berbisik.
Aku lagi-lagi menghela napas.
“Yaudah, Mira pulang ya Pak,” ucapku lalu menyelami tangan Bapak dan disusul Adryan.
“Mbak, aku pamit yah,” ucapku lalu memeluk Mbak Rita.
“Iya. Hati-hati, yah,” ucap Mbak Rita.
“Kalo ngerasa capek, istirahat dulu. Jangan dipaksain,” pesan Bapak.
“Iya, Pak,” balas Adryan.
“Kita pamit dulu, ya. Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam,” jawab Bapak dan Mbak Rita dengan kompak.
***
Rena tengah berjalan sendiri di tepi jalan perumahan. Ia berjalan dengan santai dan pelan, pandangannya menunduk dengan helaan napas yang sesekali terdengar sedikit kasar. Perlahan ia mengangkat kepalanya seraya menghela napas, menatap sekilas deretan rumah-rumah yang berjejer dan berdiri rapi di sepanjang jalan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, Rena berdiri di depan rumah Adryan dan menatapnya dengan dahi yang berkerut. Matanya lalu mengedar ke sekeliling.
“Mobilnya ga ada. Kayaknya Mbak Mira belum pulang,” batinnya.
Rena nampak menghela napasnya lagi. Ia melangkah kembali dan masuk ke dalam rumah.
Langit nampak kehilangan semburat jingganya, berganti menjadi kelabu yang menandakan malam akan segera turun.
***
Di teras rumah Bapak, Bapak dan Mbak Rita nampak duduk bersama.
“Pak, ayo telpon Rena. Suruh dia cepetan pulang kesini,” ujar Mbak Rita.
Bapak nampak terdiam, helaan napas kasar keluar lewat hidungnya seraya menunduk.
“Pak, kok diam? Ayo telpon Rena,” ujar Mbak Rita lagi.
Perlahan Bapak mengangkat kepalanya lalu menghela napasnya lagi.
“Iya, iya,” ucap Bapak lalu mengambil gawainya di saku bajunya.
Bapak pun mulai menelpon Rena. Sementara Mbak Ratih nampak fokus menatap Bapak. Semilir angin sesekali menyapu wajah mereka.
“Ga diangkat sama Rena,” ujar Bapak. Mbak Rita nampak mengendus kesal lewat hidung.