Keesokannya harinya, matahari kembali menyapa dengan cahaya keemasan. Suasana aktifitas pun berjalan seperti biasanya.
Aku menyalakan kompor lalu menuangkan minyak goreng ke wajan hendak memasak untuk sarapan.
“Mbak, aku berangkat kerja dulu, yah,” ucap Rena menghampiriku ke dapur.
“Loh, Ren. Kamu udah mau berangkat?” tanyaku.
“Iya, Mbak. Takut macet di jalan,” jawabnya.
“Kamu, ga mau sarapan dulu?” tanyaku lagi.
“Ga usah lah, Mbak. Nanti aja, gampang, di jalan juga banyak yang jualan. Yaudah, aku berangkat ya Mbak, takut telat,” jawabnya lagi.
“Yaudah. Kamu hati-hati, yah,” ucapku.
“Iya, Mbak,” balasnya lalu menyelami tanganku.
“Assalamualaikum,” ucap Rena sebelum ia berangkat.
“Waalaikumsalam,” jawabku.
Aku mengernyitkan dahi seraya menatap Rena yang melangkah pergi. Kenapa aku merasa ada yang beda dengan gadis itu? Dari semalam, sikap Rena seolah berubah manis dan lembut. Aku pun tersenyum seraya sedikit menggeleng, lalu lanjut memasak lagi.
***
Hari semakin terang. Matahari tampak berdiri tinggi di langit, cahayanya menyelimuti setiap sudut kota.
Aku menghela napas setelah menutup buku yang ku baca. Aku lalu menoleh pada jam yang berdetik. Jarum jam menunjukkan pukul 13.15. Dahiku sontak berkerut, aku lalu memutuskan turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar. Setelah menutup pintu, aku melangkah ke ruang kerja Adryan.
Tok, tok, tok.
“Mas…!” panggilku.
“Iya. Masuk aja,” sahut Adryan dari dalam.
Aku pun menekan gagang pintu, lalu masuk dan melihat Adryan yang nampak tengah sibuk.
Aku menghela napas seraya menghampiri suamiku itu.
“Mas, makan dulu, yuk. Ini udah siang, loh,” ajakku.
Adryan perlahan mengangkat kepalanya, menatapku dan tersenyum kecil. Lalu ia tak sengaja menoleh pada jam dinding di ruangannya.
“Oh, iya. Udah siang,” ucapnya.
“Iya, kan? Makanya, yuk kita makan siang dulu,” ajakku lagi.
“Duh, sayang. Tapi ini lagi tanggung banget, sebentar lagi selesai,” ucapnya seraya menatapku.
“Tapi Mas, kamu harus makan dulu. Abis makan, kamu kan bisa lanjutin lagi. Jangan terlalu diforsir kayak gini, apalagi sampai nunda makan, nanti yang ada kamu sakit,” bujukku.
“Iya, sayang. Tapi ini aku beneran sebentar lagi selesai, tanggung banget soalnya. Aku janji, 15 menit lagi selesai terus makan,” ucapnya seraya menggenggam tanganku.
“Janji?” tanyaku seraya menatapnya.