Rena nampak berjalan lemas keluar dari toko. Langkahnya lalu berhenti tepat di depan di toko, tatapannya tajam mengarah pada kekasihnya yang tengah duduk di motornya seraya menatap ponsel di parkiran.
Rena juga nampak mengendus kesal lewat hidung. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya lagi mendekati kekasihnya itu. Langkahnya yang seolah dipaksakan bersamaan dengan raut wajahnya yang nampak cemberut.
“Eh, sayang. Kamu udah keluar?” tanya Rendi. Namun Rena hanya diam dan menatap kekasihnya dengan ekspresi datar.
“Ngapain sih, pake jemput segala. Aku kan bisa pulang sendiri,” balas Rena.
“Loh, emangnya kenapa? Kamu ga suka aku jemput?” tanya Rendi lagi dengan dahi yang berkerut.
Rena nampak menghela napas seraya mengalihkan pandangannya.
“Kamu kenapa, sih? Jutek banget hari ini? Lagi dapet?” sambung Rendi.
Rena pun menoleh pada Rendi seraya menghela napasnya lagi.
“Kamu ga kerja emang?” balas Rena.
“Libur, Yang. Aku tukeran hari libur sama temen, adik temen aku mau nikah katanya, jadi dia minta tukeran hari libur sama aku. Makanya aku bisa kesini,” jelas Rendi.
Lagi-lagi Rena nampak menghela napasnya.
“Yaudah deh yuk, kita pulang,” ajak Rena dengan malas lalu naik dan duduk di motor.
“Eh Yang, bentar dulu,” ucap Rendi lalu kembali fokus pada ponselnya.
“Kenapa, lagi?” sahut Rena.
“Bentar, Yang. Aku mau liat maps dulu, nyari jalan biar ga kena macet,” jawab Rendi seraya menatap ponselnya.
“Ngapain pake maps segala. Orang rumah Mbak Mira dekat, tinggal lurus doang terus belok kanan,” ujar Rena.
Dahi Rendi nampak langsung berkerut.
“Rumah Mbak Mira? Bukannya kamu mau pulang ke rumah Bapak?” tanyanya seraya menoleh kebelakang menatap Rena.
“Hah? Rumah Bapak?” balas Rena dengan mengernyit.
“Iya. Kata Bapak kamu mau pulang ke rumah, makanya aku disuruh jemput kamu,” jelas Rendi. Seketika mata Rena membulat dan melebar menatap kekasihnya itu, bibirnya pun nampak menganga.
“Jadi kamu disuruh sama Bapak buat jemput aku?” tanyanya.
“Iya. Kamu emang mau pulang ke rumah Bapak, kan?” balas Rendi.