Rendi dan Rena akhirnya tiba di rumah Bapak. Sepeda motornya berhenti pekarangan. Bapak yang tengah duduk di teras seraya menatap gawainya seketika langsung menoleh pada sepasang sejoli yang baru saja datang itu. Rena dan Rendi pun turun dari motor, keduanya melangkah bersama menghampiri Bapak.
“Assalamualaikum,” ucap Rendi.
“Waalaikumsalam,” jawab Bapak.
Rena nampak melangkah pelan seolah ragu.
“Kalian sudah sampai,” ujar Bapak seraya berdiri.
“Pak,” ucap Rendi lalu menyelami tangan Bapak lalu tak lama disusul Rena.
“Ren. Gimana kabar kamu?” tanya Bapak.
“Alhamdulillah, Rena baik Pak,” jawabnya.
“Ya sudah, kalian masuk dulu,” pinta Bapak.
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah lalu duduk.
“Nih, Bapak sudah sediakan kalian minum. Pasti kalian capek kan, terus haus?” tanya Bapak.
Rendi dan Rena nampak menatap 2 gelas kosong serta 1 botol air putih di atas meja ruang tamu.
“Minum, minum dulu,” ucap Bapak.
“Pak, saya permisi ke kamar mandi dulu, yah,” ucap Rendi.
“Oh, iya. Iya Ren, silahkan,” balas Bapak.
Rendi beranjak lalu melangkah ke kamar mandi. Sementara Rena nampak menghela napas dalam-dalam.
“Kok ga minum, Ren? Kamu ga haus?” tanya Bapak.
Rena hanya menatap datar pada Bapak seraya menghela napas lagi. Perlahan ia lalu tuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya.
Rena terlihat lebih tenang setelah minum.
“Pak, kata Rendi Bapak mau ngomong?” tanya Rena.
“Oh, iya. Iya, Bapak emang mau ngomong, sebenarnya ada yang mau Bapak bicarakan sama kamu,” jawab Bapak.
“Soal apa, Pak?” balas Rena. Ia nampak menatap fokus pada Bapak. Sementara Bapak nampak menghela napas panjang.
Rendi lalu kembali dan duduk lagi di ruang tamu bersama Bapak dan juga Rena.
“Gini, Ren. Umm… sebenarnya Bapak mau…,”
“Assalamualaikum,” ucap Mbak Rita yang tiba-tiba datang dan memotong ucapan Bapak. Semua orang pun menoleh padanya.
“Eh, ada yang datang,” ucap Mbak Rita seraya tersenyum.
“Mbak Rita? Mbak Rita ngapain kesini?” batin Rena.
“Lebih baik kalian istirahat dulu, yah. Kalian pasti masih capek, kan?” tanya Bapak.