Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #90

Penolakan Rena

“Kalian udah ga capek, kan? Kalo gitu, sekarang aja kita ngobrolnya,” ujar Bapak di depan pintu. 

Bapak lalu melangkah dan duduk kembali, bersama di ruang tamu. 

“Jadi, begini. Ren, Bapak minta sama kamu, kamu ga usah lagi tinggal di rumahnya Mira, kamu ga usah nginep disana lagi. Biar bagaimanapun, itu rumah suaminya, rumahnya Adryan, Bapak ga enak kalau kamu kelamaan nginep disana,” jelas Bapak. 

“Hah? Maksud, Bapak?” tanya Rena dengan dahi yang berkerut. Ia juga nampak tercengang.

“Ya kamu pulang, Ren. Kamu tinggal lagi disini, sama Bapak,” timpal Mbak Rita. 

“Iya, Ren. Terus, kamu kan waktu itu pernah ngeluh soal jarak sama biaya ongkos kamu, kalau masalahnya itu, kamu bisa ngekos. Nanti Adryan yang carikan tempat kosan buat kamu yang jaraknya ga jauh dari rumah dia. Katanya disana ada kosan untuk perempuan di dalam perumahan. Jaraknya juga ga jauh dari rumah Adryan, jadi masih aman. Untuk biayanya, biar Adryan yang urus, kamu cukup bawa baju sama barang-barang kamu aja. Ini juga sekalian biar kamu bisa belajar mandiri,” jelas Bapak lagi.

Rena nampak menatap nanar pada Bapak, rahangnya mengeras, bibir terkatup rapat dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. 

Sementara kekasihnya, Rendi. Ia nampak terdiam namun juga nampak menyimak apa yang diucapkan Bapak pada Rena. Pandangannya fokus menatap Bapak lalu beralih menatap Rena. Rendi pun nampak menghela napas pelan seraya menelan salivanya. 

“Kenapa Bapak tiba-tiba ngomong kayak gini?” seru Rena. 

“Loh Ren, tadi kan Bapak udah jelasin. Masa kamu ga ngerti juga, sih? Bapak itu mau kamu ngekos biar kamu bisa belajar mandiri, kamu juga jadi ga harus—,”

“Mbak ga usah ikut campur. Lagian aku nanya ke Bapak, bukan ke Mbak,” seru Rena memotong. 

Mbak Rita pun sontak terdiam dengan dahi yang berkerut dan mata membulat menatap Rena, seolah tak percaya bahwa Rena berani menyela ucapannya. Rendi pun sama terkejutnya. Namun ia nampak menyentuh lengan Rena seolah ingin menenangkan kekasihnya itu. 

“Sudah, sudah. Yang dibilang Mbak kamu ini benar, Bapak malu kalau kamu terlalu lama tinggal di rumah Adryan. Ren, kamu kan sudah besar, sebaiknya kamu ngekos sekalian kamu juga melatih supaya mandiri,” jelas Bapak.

“Tapi kenapa mendadak gini sih, Pak? Lagian, perasaan Mas Adryan ga ngomong apa-apa, dia kayaknya ga masalah aku tinggal di rumahnya. Lagian aku kan bukan orang lain, aku adiknya Mbak Mira, berarti ya adiknya Mas Adryan juga,” balas Rena. 

Bapak nampak menghela napas kasar. 

“Oh, atau jangan-jangan ini gara-gara Mbak, lagi. Mbak yang ngehasut Bapak supaya aku ngekos aja. Iya kan?” tuduh Rena. 

Lihat selengkapnya