Malam datang, menyelimuti kawasan perumahan dengan suasana sunyi yang tenang. Lampu jalan menyala bersamaan dengan deretan lampu rumah-rumah yang memantulkan sinar temaram di atas aspal jalan.
Aku menatap jam dinding yang berdetak, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku menarik napas panjang lalu melangkah ke arah pintu depan untuk mengintip suasana di luar di balik tirai jendela.
“Sayang, kamu lagi ngapain?” tanya Adryan menghampiriku.
“Aku lagi nunggu Rena pulang, Mas. Dia belum pulang, padahal kan biasanya dia pulang sore kalo masuk shift pagi,” jawabku lalu menoleh dan mengintip lagi di balik jendela.
“Ya mungkin, dia lagi lembur,” ujar Adryan.
“Tapi Rena ga ngabarin aku, kalo dia lembur,” balasku.
“Ya mungkin dia lupa,” ujar Adryan lagi.
“Ga mungkin, Mas. Masa… eh, apa jangan-jangan hp Rena mati lagi, makanya dia ga ngasih tau kalo dia lembur?” ucapku menebak.
“Ya bisa aja kayak gitu,” sahut Adryan.
“Tapi aku takut dia kenapa-kenapa, Mas,” ucapku cemas.
“Udah, adik kamu pasti baik-baik aja. Mungkin sekarang udah pulang tapi kena macet di jalan,” ucap Adryan seraya memeluk dan menenangkanku.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Aku pun mencoba mengintipnya lagi lewat tirai jendela. Seketika mataku membulat dan dahiku mengkerut saat melihat siapa orang yang ada di motor itu.
"Mas, aku ngambil hijab dulu ya, ke kamar," ucapku lalu gegas ke kamar untuk mengambil hijab dan memakainya.
“Ada apa, sayang?” sahut Adryan.
Ia lalu ikut mengintip dibalik tirai jendela dan dahi Adryan tampak langsung berkerut saat melihatnya. Tak lama aku kembali dengan mengenakan hijab dan langsung membuka pintu.
“Rena. Rendi?” ucapku dan langsung menghampiri kedua sejoli yang baru tiba itu. Adryan pun langsung ikut menghampiri.
“Mbak, Mas,” sapa Rendi seraya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Adryan nampak membalas dengan tersenyum juga.
“Ren, kamu baru pulang?” tanyaku pada adik bungsuku itu yang berdiri di samping kekasihnya yang masih duduk di motornya.
“Iya, Mbak,” jawabnya dingin.
“Kamu kok nganterin Rena pulang? Kalian emang abis pergi?” tanyaku lagi.
“Umm. Iya Mbak, kebetulan tadi kita abis dari rumah Bapak,” jawab Rendi.
Seketika aku dan Adryan membulatkan mata lalu melirik dan saling pandang dengan dahi yang mengkerut.
“Ke rumah Bapak? Ngapain?” tanyaku.
Kini, Rendi dan Rena yang melirik dan saling pandang.
“Umm. Tadi Bapak cuma suruh aku jemput Rena aja ke rumah, Mbak,” jawab Rendi.
Aku dan Adryan kembali menoleh dan saling melirik.
“Ya ampun, Ren. Lain kali kabarin Mbak, kalo kamu mau pergi. Mbak khawatir loh, jam segini kamu belum pulang. Mbak pikir kamu lembur lagi,” ujarku.
“Ngapain Mbak khawatir, kalo Mbak mikirnya aku lembur?” balas Rena.
Dahiku sedikit mengkerut mendengar ucapan Rena.
“Ya.. maksud Mbak, kamu ga ada kabar kalo kamu lembur, atau pergi. Kalo kamu lembur, Mbak khawatir kamu pulang kemalaman,” jelasku.
Rena hanya diam, sementara Rendi nampak menoleh dan melirik Rena.
“Yaudah, kalian masuk, yuk,” ajakku.
“Mbak. Maaf, saya mau langsung pulang aja,” ujar Rendi.
“Loh. Langsung pulang? Kamu ga mau masuk dulu? Minum dulu?” tanyaku.
“Engga deh, Mbak. Lain kali aja, ini juga udah malam, takutnya nanti sampai rumah kemalaman,” jawab Rendi.
“Oh, gitu. Yaudah,” balasku.
“Kalo gitu saya pamit pulang ya, Mbak, Mas,” ucap kekasih Rena itu.
“Iya. Hati-hati ya, Ren,” ucapku.
“Iya, Mbak,” balasnya.
Rendi lalu melaju dengan sepeda motornya.