“Mas,” sapaku pada Adryan yang tengah duduk di meja makan seraya menatap ponselnya.
“Sayang. Kamu… abis dari kamar adik kamu?” tanyanya.
“Iya,” jawabku seraya duduk.
“Terus, adik kamunya mana? Dia ga ikut sarapan?” tanyanya lagi.
Aku menghela napas pelan.
“Rena lagi sibuk packing, Mas,” jawabku lalu mengambil roti.
“Packing?” tanya Adryan lagi dengan dahi yang mengkerut.
“Iya. Oh iya, kosan buat Rena udah ada kan, Mas? Maksudnya aku, masih ada yang kosong, kan? Kata kamu lokasinya ga jauh dari sini?” tanyaku.
Adryan nampak terdiam seraya menatap datar padaku.
“Mas. Kok kamu diam, sih?” tanyaku seraya menyentuh tangannya di atas meja.
“Oh, iya. Iya, masih ada kok, masih kosong. Tapi… kamu yakin, kamu mau adik kamu ngekos aja?” balas Adryan.
Aku pun sontak mengernyitkan dahiku.
“Kamu kok nanya gitu sih, sekarang? Bukannya kamu, yang kemarin-kemarin ngebujuk aku biar Rena ngekos?” balasku.
“Ya, iya. Maksud aku… ya, kemarin-kemarin kan kamu kayak berat gitu waktu aku minta adik kamu biar ngekos, tapi sekarang tiba-tiba kamu nanyain kosan buat adik kamu,” jelas Adryan.
Aku pun menghela napas.
“Iya, Mas. Menurut aku, kayaknya Rena udah cukup dewasa untuk belajar mandiri, dan aku pikir, kita juga butuh waktu buat berdua,” balasku.
Adryan pun tersenyum lalu menggenggam tanganku. Sementara itu, Rena rupanya menguping pembicaraanku dan Adryan di balik tembok. Ia nampak menghela napas dalam seraya menunduk lalu melangkah masuk kembali ke kamarnya.
Aku dan Adryan sama-sama menikmati sarapan pagi kami. Tiba-tiba terdengar hentakan dan suara barang jatuh dari arah kamar Rena. Aku dan Adryan pun sontak menoleh.
“Kayaknya Rena, Mas,” ucapku. Adryan nampak tengah mengelap mulutnya dengan tisu. Aku gegas beranjak lalu melangkah kembali ke arah kamar Rena dan Adryan pun langsung menyusul.
“Ren, kamu…udah siap?” tanyaku pada Rena yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Ia hanya diam, berdiri tak bergeming. Pandangannya mengarah ke bawah dengan wajah yang sedikit murung namun cenderung kesal. Sementara di tangannya ada jinjingan tas besar yang sepertinya berisi pakaiannya.
“Kamu… mau sarapan, dulu? Mbak udah siapin sarapan di meja makan,” tanyaku lagi.
“Ga usah, Mbak. Aku sarapan di jalan aja,” jawabnya dengan dingin. Rena nampak menghela napas pelan seraya menunduk menatap tas besar di tangannya.
“Yaudah. Kalo kamu jadinya mau berangkat sekarang. Mas, kamu siapin mobil yah, kita langsung aja berangkat ke lokasi kosannya,” ujarku.
Rena langsung menoleh padaku dengan dahi yang berkerut.
“Siapa yang mau ngekos, orang aku mau pulang ke rumah Bapak,” sahut Rena.
Kini dahiku yang mengkerut menatap gadis itu. Aku dan Adryan pun saling pandang untuk sesaat.
“Ke rumah, Bapak?” tanyaku.
“Iya, Mbak. Aku mau pulang aja ke rumah Bapak, dan Mbak ga usah mikirin aku lagi. Makasih, aku udah di izinin buat nginep disini,” jawabnya dengan wajah dan nada yang datar.
Aku dan Adryan pun saling pandang lagi untuk sesaat.
“Yaudah, kalo gitu kita anterin ke rumah Bapak,” ujar Adryan.
“Ga usah, makasih. Rendi bentar lagi nyampe, dia mau jemput aku,” balas Rena.
“Rendi?” tanyaku lagi seraya mengernyit.
“Iya. Dia udah di jalan, bentar lagi juga nyampe,” jawab Rena dengan malas.
Wajah Rena nampak masih murung dan juga bercampur kesal. Ia bicara dengan pandangan yang tak fokus dan cenderung menunduk ke bawah.