Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #93

Cahaya kesadaran Rena

Sore perlahan menyapa. Semilir angin berhembus pelan menemani aktivitas warga. Anak-anak nampak berlarian untuk bermain, sementara ibu-ibu tetangga tengah asyik mengobrol seraya tetap memperhatikan anak-anaknya. 

Rena masuk ke kamarnya dan langsung membuka laci lemarinya. 

Matanya nampak melebar dan dahinya berkerut saat ia melihat sebuah bungkusan plastik. Rena pun mengambil dan menatapnya. 

“Hah? Pembalutnya, abis?” keluhnya lalu menghela napas dengan berat. 

“Duh, pake lupa beli segala lagi. Sekarang mesti ke warung dong, beli pembalut,” gerutunya.

Rena pun langsung keluar dari kamarnya dan gegas pergi. 

Langit tampak berubah warna menjadi keemasan, menghadirkan senja dengan cahaya hangatnya. 

Rena tengah berjalan menuju warung yang letaknya sedikit jauh dari rumah Bapak. Ia tampak melangkah cepat namun juga tak terburu-buru. 

“Eh, Rena,” sahut salah satu tetangga yang tengah mengobrol itu. 

“Loh, Ren. Kok ada disini? Bukannya katanya tinggal di kota yah, sama Mira?” sahut tetangga yang lain. 

“Iya. Apa udah ga tinggal sama Mira lagi? Makanya ada disini?” sahut tetangga lainnya.

Rena nampak menghela napas pelan. 

“Iya, Bu. Saya udah tinggal lagi disini,” jawab Rena. 

“Loh, kenapa?” tanya tetangga lagi.

“Iya. Katanya kerjanya juga pindah yah ke kota, makanya tinggalnya sama Mira biar lebih dekat,” timpal tetangga lagi. 

Ketiga ibu-ibu itu nampak saling berbisik seraya tersenyum tipis dan lirikan yang penuh arti.

“Saya udah dipindahkan lagi kerjanya disini, di pusat. Makanya balik lagi, ke rumah Bapak,” jelas Rena. 

“Oh, gitu. Ya.. syukurlah. Kirain kamu diusir Ren, sama Mira,” sahut salah satu dari mereka. 

Lihat selengkapnya