Keesokan harinya. Sinar keemasan nampak muncul di langit dengan cahaya hangatnya. Angin berhembus pelan menyusup lewat tirai jendela kamar Rena.
Gadis itu tampak berdiri di depan cermin. Ia menatap dirinya dari pantulan lalu tersenyum lembut. Rena nampak merapikan hijabnya, penampilannya kali ini sungguh berbeda. Pakaiannya lebih tertutup dan longgar, hijabnya pun tampak terpasang lebih sempurna dari biasanya. Setelah merasa rapi, Rena mengambil tas lalu gegas keluar.
Di depan pintu kamarnya, Rena berdiri, tersenyum kecil lalu menghela napas pelan. Tiba-tiba terdengar benda jatuh dari arah dapur. Rena nampak sedikit mengernyit, lalu melihatnya ke dapur.
“Bu Dwi!” panggil Rena lalu melangkah mendekati Bu Dwi.
“Eh, Mbak Rena,” balas Bu Dwi. Wanita itu nampak terlihat gugup.
“Masya Allah, Mbak Rena hari ini cantik banget, Mbak. Saya sampai pangling liatnya,” puji Bu Dwi seraya menatap penampilan Rena yang tak biasa itu.
“Bisa aja Bu, Dwi,” balas Rena.
“Bu Dwi baru datang, yah?” tanya Rena.
“Iya, Mbak. Maaf yah, saya telat. Tadi anak saya minta dibikinin bekal dulu,” jawab Bu Dwi.
“Oh. Ga apa-apa, Bu. Tadi... kayak ada yang jatuh?” tanya Rena lagi seraya mengedarkan mata sekilas.
“Iya, Mbak. Tadi saya ga sengaja jatuhin baskom. Maaf ya, Mbak,” ucap Bu Dwi.
“Oh, ga apa-apa. Saya takutnya ada binatang yang masuk," ujar Rena.
Rena lalu membuka kulkas dan mengambil sebuah botol minum.
“Mbak Rena, mau… saya buatin sarapan?” tanya Bu Dwi.
Rena nampak tersenyum kecil.
“Kebetulan saya udah sarapan, Bu Dwi. Saya cuma mau ngambil botol minum saya aja,” jawab Rena seraya menunjukkan botol minum di tangannya.
“Oh, begitu ya Mbak,” balas Bu Dwi dengan tersenyum kaku.
“Kalo gitu, saya berangkat dulu ya," ucap Rena.
“Mbak Rena..!” panggil Bu Dwi. Rena pun langsung menoleh dan tak jadi melangkah.
“Iya?” tanyanya.
“Umm. Anu, Mbak. Ini… kok ga ada cucian piring kotor ya, Mbak? Semuanya udah pada bersih. Ini dicuci sama siapa ya, Mbak? Apa sama Bapak? Bapak nyuci piring-piring kotor bekas semalam?” tebak Bu Dwi.
Rena nampak menunduk seraya tersenyum kecil lalu perlahan mengangkat kepalanya.
“Kebetulan, saya yang nyuci,” jawab Rena.
“Hah? Mbak Rena, yang nyuci piring-piring disini?” tanya Bu Dwi lagi dengan mata yang membulat seolah tak percaya.
“Iya, Bu. Tadi pagi saya emang bangun lebih awal, terus saya juga punya waktu luang, jadi saya cuci aja piring-piringnya,” jelas Rena.
“Yaudah, saya berangkat dulu ya Bu Dwi. Assalamualaikum,” ucap Rena.
“E.. Waalaikumsalam,” balas Bu Dwi.
Rena pun melangkah pergi. Sementara Bu Dwi nampak masih terdiam dan mematung sesaat dengan dahi yang berkerut. Bu Dwi lalu menoleh ke wastafel yang nampak sudah bersih. Ia terlihat kebingungan seolah tak percaya dengan apa yang sudah Rena lakukan.
“Pak, Rena berangkat dulu, yah,” ucap Rena menghampiri Bapak di teras.
“Iya,” jawab Bapak seraya menaruh kopinya di atas meja. Bapak lalu terkejut saat melihat penampilan Rena yang tak seperti biasanya. Bapak menatap anak gadisnya itu dari bawah kaki hingga ke atas kepalanya.
“Kamu… mau kemana, Ren?” tanya Bapak
“Rena mau kerja lah, Pak,” jawabnya.