Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #95

Hasil tespack

Keesokkan harinya, matahari kembali bersinar, memancarkan cahayanya ke setiap sudut kota yang sudah mulai dipenuhi dengan berbagai aktivitas. 

Jari-jemariku menari lincah di atas keyboard, sementara mataku menatap fokus pada layar di depan. 

“Mir, bagus ga?” tanya Meyra seraya memperlihatkan gambar baju pada sebuah toko daring di ponselnya. 

“Bagus,” jawabku. 

Meyra sontak tersenyum ceria.

“Kamu mau beli juga ga, Mir,?” tanya Meyra lagi.

“Duh, nggak dulu deh. Baju aku udah banyak di lemari,” jawabku.

“Ini tuh lagi diskon tau, 30%. Kan lumayan, tapi diskonnya cuma sampai tanggal 20 aja, berarti besok terakhir diskonnya. Lusa udah ga ada diskon lagi,” ujar Meyra. Seketika aku langsung menoleh padanya.

“Besok, emang tanggal berapa?” tanyaku.

“Tanggal 20. Besok itu terakhir diskonnya. Mau beli ga, Mir? Bagus-bagus loh bajunya,” balas Meyra.

Aku langsung melihat kalender di layar laptop di depanku. Dan ternyata benar, besok adalah tanggal 20. Aku terdiam dan terpaku menatap layar, aku baru sadar kalau aku sudah telah datang bulan.

“Mir, Mir,” panggil Meyra seraya menyentuh pundakku. 

“Iya?” sahutku.

“Kok kamu malah bengong, sih?” tanya Meyra.

“Oh, enggak. Aku.. ini lagi liat laporan aku,” jawabku.

“Jadinya mau beli ga?” tanya Meyra lagi.

“Umm. Kayaknya nanti aja deh, Mey. Aku mau beresin laporan dulu. Paling nanti aku liat-liat dulu bajunya,” jawabku.

“Jangan lama, soalnya diskonnya cuma sampe besok,” ujar Meyra.

“Iya,” jawabku dengan tersenyum. 

Aku kembali menatap layar, namun sebenarnya pikiranku mulai bertanya-tanya. 

***

Mbak Rita nampak melangkah lagi hendak ke rumah Bapak. Ia lalu melihat Bu Dwi yang tengah sibuk berjemur di samping rumah. Untuk sesaat Mbak Rita nampak berdiri mematung dengan dahi yang sedikit berkerut. Ia lalu lanjut melangkah untuk menghampiri Bu Dwi.

Lihat selengkapnya