Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #96

Berita kehamilan Mira

Keesokan harinya, matahari kembali bersinar. Cahayanya memenuhi ke setiap sudut kota. 

Suasana rumah sakit seolah dipenuhi kesibukan. Deretan kursi ruang tunggu hampir semuanya terisi. Sementara tenaga medis tampak berlalu lalang di lorong rumah sakit. 

Aku terbaring di ranjang pemeriksaan, sementara Adryan berada disampingku seraya menggenggam lembut tanganku. 

“Selamat ya Bu, Pak. Ini kehamilannya sudah terlihat jelas. Ini kantung kehamilan dan di sini calon buah hati Bapak dan Ibu,” jelas dokter seraya mengelus lembut perutku dengan alat medisnya.

Adryan nampak tersenyum haru menatap layar monitor hingga dirinya terlihat tak berkedip. 

“Usia kandungannya baru 6 minggu. Pada kehamilan selanjutnya janin akan terlihat semakin jelas. Jadi dijaga baik-baik, yah, ” pesan dokter.

"Iya, dok," ucapku.

Aku dan Adryan saling menatap dalam haru. 

***

Langit biru tampak membentang luas dan matahari telah berada di puncaknya.

“Hah? Mau pulang kampung? Kenapa Bu Dwi?” tanya Mbak Rita dengan terkejut. 

Mbak Rita dan Bu Dwi tampak berdiri di dapur.

“Iya, Mbak. Ibu saya sakit keras katanya, disana ga ada yang ngurusin, soalnya adik saya mau pindah ikut suaminya katanya,” jelas Bu Dwi.

Mbak Rita tampak menghela napas.

“Terus kalo Bu Dwi pulang kampung, balik lagi kapan?” tanya Mbak Rita lagi.

“Itu dia, Mbak. Saya sendiri belum tau mau balik kesini lagi kapan, soalnya kan saya harus urus ibu saya, terus saya harus urus sawah sama ladang juga Mbak, disana. Kayaknya saya bakalan lama, atau mungkin juga ga bakal balik kesini lagi,” jelas Bu Dwi lagi.

“Loh, terus anak-anaknya Bu Dwi gimana? Sekolahnya?” tanya Mbak Rita lagi.

“Saya bawa. Kemungkinan akan pindah sekolah, Mbak. Lagipula, disini juga saya masih ngontrak, Mbak,” jawab Bu Dwi.

“Oh, yaudah kalo itu udah jadi keputusan Bu Dwi. Tapi saya kasih tau sama obrolin dulu yah, ke Bapak sama Mira. Karena kan yang bayar Bu Dwi itu, Mira. Jadi kayaknya dia harus tau. Bu Dwi kapan mau berangkatnya?” tanya Mbak Rita lagi.

“Rencananya minggu ini, Mbak,” jawab Bu Dwi lagi.

“Oh, yaudah. Nanti saya coba telpon Mira dulu yah, besok kan tanggal merah, Mira libur. Siapa tau dia mau kesini,” ujar Mbak Rita

“Iya, Mbak. Terima kasih ya, Mbak. Kalo gitu saya mau lanjut cuci piring dulu,” ucap Bu Dwi.

“Iya,” balas Mbak Rita. 

Mbak Rita melangkah ke depan seraya mengambil ponsel di saku bajunya. Seketika matanya melotot menatap layar ponselnya. Mbak Rita nampak terkejut saat melihat pesan dariku, yaitu foto usg. 

Ia pun langsung menelpon. 

“Halo. Assalamualaikum,” ucapku saat menerima telepon dari Mbak Rita.

Lihat selengkapnya