Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #97

Kembali akur dan bersama

Malam turun kembali menyelimuti langit dengan warna pekatnya. Angin berhembus lembut lewat celah jendela seolah memberikan kesejukan dalam sunyinya malam. 

Aku menatap layar ponselku dengan serius. Aku melihat postingan sosial media milik Rena. Dahiku berkerut saat membaca setiap caption yang ditulis Rena dalam postingannya. 

“Alhamdulillah ya Allah, rezeki hari ini,” tulisnya.

Dahiku semakin berkerut saat melihat postingan Rena yang lain pada sosial media lainnya. Rena menulis keterangan dengan gaya tulisan yang lebih lembut, calm, dan penuh syukur. 

“Sepertinya, Rena memang sudah berubah. Syukurlah,” batinku. 

“Sayang, kamu lagi ngapain? Kelihatannya serius banget?” tanya Adryan seraya duduk menghampiriku.

“Engga kok, Mas. Aku lagi iseng buka sosmed,” jawabku. 

“Yaudah, kita tidur yuk. Udah malam, besok kan kita ke rumah Bapak,” ajak Adryan.

“Iya, Mas,” ucapku. 

Aku lalu menyimpan ponselku di atas nakas, lalu bersiap untuk tidur. 

***

Pagi menjelang. Cahaya matahari menyinari jalanan yang kian ramai. Lalu lintas pun mulai padat, deretan kendaraan nampak memenuhi ruas jalan. 

“Sayang, aku udah kasih tau Papah sama Mas Panji kalo kamu hamil,” ujar Adryan seraya menyetir.

“Oh, iya? Terus mereka bilang apa, Mas?" balasku. 

“Iya. Mereka senang banget dan ngucapin selamat,” ujar Adryan lagi. 

“Alhamdulillah, Mas,” ucapku.

“Terus, Mas Panji bilang, dia pengen ketemu sama kita,” ujar Adryan lagi.

“Oh. Kapan, Mas?” tanyaku.

“Umm. Belum tau sih, Mas Panji juga katanya masih sibuk sama kerjaannya, paling mungkin nanti dikabari lagi,” jawab Adryan.

Aku hanya tersenyum kecil seraya melirik Adryan. 

Mobil Adryan tiba di rumah Bapak. Aku dan Adryan pun gegas turun. 

“Assalamualaikum,” ucapku seraya menghampiri Bapak yang tengah duduk di teras. 

“Waalaikumsalam,” jawab Bapak lalu beranjak. 

“Pak,” ucapku lalu menyelami tangan Bapak dan disusul Adryan. 

“Baru sampai, Mir? Gimana di jalan tadi? Macet?” tanya Bapak. 

“Umm. Cuma sebentar aja kok Pak, macetnya,” jawabku. 

“Ya sudah. Ayo masuk, masuk,” ajak Bapak. 

Aku, Adryan dan Bapak masuk ke dalam lalu duduk di ruang tamu. 

“Rit…! Ren…! Sini,” panggil Bapak. 

“Iya, Pak,” sahut Mbak Rita. 

“Eh, Mir. Kamu udah dateng,” tanya Mbak Rita. 

“Udah, Mbak,” jawabku. 

“Mbak,” sapa Rena. Seketika aku terpaku melihat Rena, tampilannya nampak berubah. Aku menatap gadis itu dari bawah kaki hingga ke atas kepalanya. Rena berbeda dari biasa ku lihat, ia memakai pakaian yang lebih sopan, celana panjang longgar dan baju panjang yang pas di tubuhnya namun tak terlihat ketat. Kerudungnya pun nampak rapi dan teratur. 

“Mir, kenapa? Kok bengong?” tanya Mbak Rita dengan dahi yang berkerut, lalu Mbak Rita nampak tersenyum tipis seraya melirik Rena seolah ia mengerti kenapa aku membeku tiba-tiba.

“Ren, kamu ambilkan minum dulu buat Mira dan Adryan,” suruh Bapak.

“Iya, Pak,” ucap Rena lalu gegas ke dapur. 

Mbak Rita lalu langsung duduk mendekatiku. 

“Benar kan, Mir. Rena udah berubah sekarang?" bisik Mbak Rita. 

“Iya, Mbak,” balasku. 

Rena lalu datang dengan membawa minuman juga makanan berupa cemilan. 

“Ini Mbak, Mas. Minum dulu, pasti haus kan, karena baru sampe,” ujar Rena.

“Makasih ya, Ren,” ucapku. 

“Mir, mana foto usgnya kasih liat Bapak,” ujar Mbak Rita. 

“Oh, iya,” ucapku lalu mengambil foto usg di dalam tas.

“Nah. Nih Pak, Mira sekarang lagi hamil, bentar lagi Bapak bakalan dapat cucu dari Mira,” ucap Mbak Rita seraya memberikan foto usg ku pada Bapak.

Lihat selengkapnya