Aku lalu masuk ke kamar lagi dan menutup pintu.
“Loh Mas, kamu udah bangun?” tanyaku seraya duduk di kasur mendekati Adryan.
“Iya. Kamu gimana? Udah selesai urusan kamu sama Bu Dwi?” balas Adryan.
“Udah. Bu Dwi juga pulang,” jawabku.
“Oh, iya. Tadi.. aku denger kayak ribut-ribut. Ada apa?” tanya Adryan.
“Ribut-ribut?” balasku dengan mengernyit.
“Oh, bukan. Maksudnya, kayak ada obrolan yang didebatin. Terus aku juga dengar ada suara cowok,” jelas Adryan.
“Oh, itu Mas Benny, Mas,” jawabku.
“Mas Benny?” tanya Adryan.
“Iya. Mas kan suka gitu kalo ngomong. Biasalah Mas, mungkin karena lingkungan pergaulannya,” jawabku.
“Memangnya kenapa, sama lingkungan pergaulannya?” tanya Adryan lagi.
“Mas Benny kan jarang pulang, seringnya di luar, nongkrong sama teman-temannya. Ya biasalah Mas, anak tongkrongan gitu. Kerjanya juga ya semau mereka aja, jadi ga gitu. Maaf yah, kalo tadi kamu jadinya kebangun gara-gara suaranya Mas Benny,” jelasku.
“Ga apa-apa, sayang. Oh iya, aku tadi dapat kiriman pesan dari Mas Panji, katanya kita disuruh datang ke rumah Papa. Kita diundang makan malam bersama malam ini,” ujar Adryan.
“Makan malam, Mas? Malam ini?” tanyaku sedikit mengernyit.
“Iya. Makan malam di rumah Papa, mereka juga katanya mau liat keadaan kamu sama mau ngucapin selamat juga. Gimana? Kira-kira kamu capek ga, kalau malam ini kita langsung ke rumah Papa?” balas Adryan.
“Ya engga sih, Mas. Kan aku juga ga ngapa-ngapain,” jawabku.
Adryan lalu melihat jam tangannya.
“Masih siang, kita masih punya waktu buat istirahat sebentar. Kamu sekarang istirahat dulu biar ga capek, abis itu kita pamit terus langsung ke rumah Papa. Gimana?” tanyanya lagi.
Aku pun sontak tersenyum padanya.
“Iya, Mas. Aku nurut aja sama kamu,” jawabku.
“Sini,” ucap Adryan lalu memelukku.
***
Malam turun kembali dengan menyelimuti langit dengan hamparan warna kelamnya. Angin malam menyelinap masuk lewat celah jendela mobil, membawa udara yang terasa sejuk di kulit. Suasana terasa begitu tenang dan Adryan tampak fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Deretan pertokoan, lampu jalan yang menyala, dan kendaraan yang silih melintas seolah menjadi pemandangan di sepasang jalan.
Mobil Adryan lalu berhenti sejenak dan masuk ke sebuah pekarangan rumah di pertengahan kota. Aku menatap rumah itu dengan takjub, sebuah rumah yang berdiri tegap dan mewah dengan arsitekstur klasik namun juga memiliki eksterior yang modern, membuat rumah itu terlihat begitu indah dan elegan.
Aku dan Adryan turun dari mobil.
“Mas Panji udah datang ternyata. Itu mobilnya,” ujar Adryan seraya menunjuk pada mobil Mas Panji yang sudah terparkir lebih dulu.
“Mas, ini rumah siapa?” tanyaku.
“Rumah Papa sama istrinya. Kamu belum pernah kesini, yah? Makanya, ayo masuk,” ajak Adryan.
Aku dan Adryan melangkah bersama menuju rumah itu. Di depan pintu, Adryan memencet bel rumah.
Tak lama, pintu pun dibuka dari dalam.
“Eh, Adryan. Sudah datang,” ucap wanita setengah paruh baya yang ku kenal sebagai mertuaku.