Desa Absurd

penulis kacangan
Chapter #1

Salah paham

"NOONGGGGGG!"


Teriakan itu membuat gendang telinga mau kabur dari tempatnya. Tapi, nggak tahu kenapa?


Nama itu kayak punya efek magis. Baru juga rebahan lima menit, langsung disuruh nyapu, jemur pakaian, beli bawang dan gendong galon. Multitalenta katanya, lebih tepat ke arah pengangguran, maksudnya.


Serba repot jadi anak bungsu. Selalu dibandingkan dengan saudara tertua yang sudah jadi petani sukses di desa, bukan hanya lahan yang luas dia juga memiliki empat teraktor, gayanya kalem, kata tetangga sih "panutan". Sementara aku sendiri masih sibuk mikirin masa depan sambil genjreng-genjreng.


Emak bilang, pindah ke desa itu awal yang baru. Tapi, jujur aja awal yang baru ini... bukan sepatu aja yang rusak, harga diri ikut tergelincir di jalan becek, dan satu bude yang liat satu kampung tahu. Beritanya lebih cepat dari kirim pesan aplikasi hijau.


Adaptasi? Susah.


Aku nggak ngerti kode-kode tetangga sini. Kadang senyum mereka bukan senyum ramah, tapi senyum ngetes. Kadang omongan mereka bukan tanya, tapi sindiran level dewa dan di tengah semua kekacauan itu, muncullah satu wanita.


Jainab itu... ribet. Ribet karena dia manis, pintar, senyumannya kayak iklan pasta gigi, dan dia...


Tiap hari pikiran terganggu oleh dia. Ahk, ini lagi berjuang ngebangun masa depan, atau malah ngebangun drama keluarga?


Satu hal yang pasti. Ini tentang bertahan jadi diri sendiri, sambil pura-pura ngerti kode orang lain, dan berusaha jatuh cinta... tanpa jatuh ke lubang yang salah.




**




Esok hari, secangkir coklat hangat telah diracik dengan sepenuh hati. Lalu, nyalain rokok, lanjut uji nasib untuk chattingan sama dia. Tapi sampai kopi udah habis, puntung rokok tiga batang di asbak, belum juga ada balasan.


"Mending ngecat sarang tawon, biar cepat bales!" gerutuku.


Dari sinilah ada ide, bahwa kecewa itu bukan dari seseorang, melainkan karena pikiran kita sendiri yang terlalu berlebihan. Terlalu berharap sama apa yang pikiran pengen. Ini jelas masuk kategori ekspektasi nggak sesuai realita!


Plak!

Lihat selengkapnya