Sial! Main hakim sendiri! Aku yakin bapak ini pasti alumni gang motor yang dikit-dikit main fisik. Anarkis banget! Belum sempet klarifikasi, udah mau main pukul.
"Maksudnya, bukan dikontrakin, Pak. Rumah ini dibeli emak saya."
Mereka langsung saling pandang, abis itu mata mereka geser ke aku dari ujung kaki sampe ubun-ubun. Heran banget! Mungkin mereka kira kakiku ngambang kali, gak napak ke lantai?
"Gak ngambang, kan Pak? Masih nginjek lantai," candaku upaya mencairkan suasana.
Mereka balik saling tatap lagi, kayak bingung ini ngelawak apa ngelantur.
Aku tarik napas panjang, terus coba ngobrol santai. Biar gak ada dusta di antara kita.
Ternyata, si bapak berpeci miring itu Pak RT, dan si bapak pelari adalah satpam desa. Yah, pantesan sih dia sensi banget sama orang asing. Mungkin dia takut ada teroris, maling, atau alien nyasar ke desa.
Gak lama, emak ikutan nimbrung, bikin suasana obrolan jadi sedikit lebih serius. Jujur, tiap ngobrol serius tuh urat kepala suka tegang. Mungkin belum cukup dewasa ngadepinnya-padahal umur udah nyaris kepala tiga. Tinggal satu tahun lagi.
"Kartu Keluarga, KTP difotokopi ya, Bu," kata Pak RT.
"Nanti anak saya aja yang fotokopi, Pak," jawab Emak.
"Jangan lupa!"
"Ya Pak, aman."
"Jangan lupa apa, coba?" tanya Pak RT sambil nunjukin muka serius.
"Fotokopi KK sama KTP?"
"Bukan. Jangan lupa kalau belanja... ke warung saya aja. Jangan ke warung lain, yang jualan suka ngasih barang kadaluarsa," bisiknya. "Warga di sini harus sehat."
Abis itu mereka pamit pulang tak lupa Pak pelari juga senyumin emak. Iih, amit-amit dah kalau dia jadi bapak angkat.
PRANGG!!
Suara keras itu bikin aku dan emak refleks noleh. Tapi kali ini bukan dari halaman rumah, suaranya jelas banget dari arah sebelah rumah.
"Ini panci? Bukan kandang ayam? Siapa yang naruh ayam di dalam panci?!" teriak suara nyaring banget, khas ibu-ibu yang biasanya ngerumpi berita hoax dan tahu gosip sebelum gosip itu kejadian.
Emak cuma geleng-geleng kepala. Aku diem, antara nahan tawa dan takut ketularan drama.