Desa Absurd

penulis kacangan
Chapter #3

Dokumentasi warga

Sepi.


Nggak ada anjing, nggak ada emak-emak, bahkan cicak di dinding aja lagi tidur.


Pas nunduk, dua kepala botak mengintip dari balik kakiku. Mereka nggak lari. Malah senyum.


Ternyata ada dua anak kecil di luar rumah.


"Om! Main petak umpet yuk!" kata yang ompong sambil narik celanaku lagi, takut aku kabur.


"Ngga! Kita tangkep dulu! Dia kan orang baru!" balas yang serius, langsung meluk kakiku biar nggak lari.


Aku cuma bisa berdiri kaku kayak patung.

Baru mau protes, si anak serius itu tiba-tiba lepas pelukannya, merogoh saku, dan ngeluarin HP jadul yang layarnya retak.


"Eh bentar Om. Tunggu. Kata Bapak kita harus foto Om buat formulir warga baru."


"Buat apa dek?"


"Kami dari tim dokumentasi RT. Disuruh bapak."


"Bapakmu Rt?"


Mereka ngangguk kompak, "kami mau ambil foto warga baru."


"Foto? Malem-malem gini?"


"Iya, soalnya besok bapak sibuk ikut lomba karaoke antar kampung."


"Dino?"


"Mamasku lagi sibuk penelitian benih kentang." Mereka menjawab kompak.


Aku diem, ngerasa ini desa makin surreal tiap menitnya.


"Boleh, Mas senyum ya. Tapi jangan terlalu senang, nanti dikira setting-an," kata anak yang satu lagi sambil angkat HP Blitz menyala.


Jepret.


"Selesai!"


Tanpa aba-aba, mereka langsung lari kayak ninja. Astaga. Desa ini bener-bener beda dimensi.


Setelah dua bocah botak itu kabur sambil ketawa-ketiwi bawa HP retak, suasana rumah balik sepi lagi.

Lihat selengkapnya