Desa Absurd

penulis kacangan
Chapter #5

Isue suka janda

“Eh—”


Keseimbanganku buyar. 


Sebelum jidatku ketemu lantai, ada tangan dingin yang nyangkut di lenganku. Badannya kecil, tapi tarikannya kayak atlit tarik tambang. 


Dua detik kami diam. Aku yang masih setengah jongkok, dia yang setengah nunduk nahan badanku. Wajah kami cuma berjarak sejengkal. Bau melati sama keringat dapur nyampur jadi satu.


Untuk beberapa detik, dunia sepi. Cuma ada mata Bu Wartinem yang lebar karena panik, dan mukaku yang pasti merah kayak tomat rebus.


“Mas... hati-hati dong. Jalanan licin,” bisiknya pelan, tapi cukup buat bikin jantungku copot. 


Aku baru mau jawab, suara tepuk tangan bikin semua pecah.


“Wah wah... romantis amat kalian."


Semua warga, sekarang udah berdiri melingkar kayak penonton dangdut.  

“Jatuh cinta ya, Neng Wartinem?”  

“Wajar sih, Mas Hangga ganteng. Beda sama suaminya Bu RT yang botak makannya pakai peci terus!”  


“Fotoin dong! Buat bukti kalau janda desa kita laku!”


Mukaku makin panas. Bu Wartinem buru-buru lepas tangannya, mundur selangkah sambil pura-pura merapikan kerudungnya yang nggak berantakan.

Emang sih, Bu Inem umur 36 tahun, tapi wajahnya awet muda seperti 20 tahun. Belum lagi badannya yang aduhai, khas ibu-ibu muda yang masih renyah.

“Enggak... tadi Mas Hangga hampir jatuh. Aku cuma nolong!”


Tapi jelas nggak ada yang percaya. Bukannya, dia dari tadi nahan aku terus untuk pulang. 


Dan puncaknya, dari ujung jalan terdengar suara berat kayak guntur:  

“PADA NGAPAIN DI SINI?!” Pak Satpam dengan matanya nyala kayak lampu senter. 


Dia ngidolain Bu Wartinem sejak jaman SMA. Katanya dulu pernah kirim surat cinta, nggak dibalas. Sampai jandanya saja dia masih penuh harap.


Sekarang dia berdiri di sana, napas kasar, tangan ngepal, liatin aku kayak aku maling ayam.


“Bu Wartinem! ngapain pegangan sama orang baru?! Masih bocah lagi," seru Bu Rose tak mau ketinggalan. 


Bu Wartinem mendesah panjang.  

“Pak Slamet, ini salah paham. Dia hampir jatuh!”


“SALAH PAHAM?! Dua orang saling pandang kayak gitu namanya salah paham?! Aku udah jagain 15 tahun, eh baru seminggu ada cowok boca—”


“Pak, ini ada kesalah pahaman,” potongku pelan.


Pak Slamet nggak denger. Dia udah keburu kebakaran jenggot.  

“Besok rapat RT! Kita bahas moral warga baru! Titik!”


Lihat selengkapnya