Alia, dan keempat orang lainnya baru saja menyelesaikan salat di London Central Mosque. Mesjid yang bisa menampung sekitar lima ribu jamaah itu, berdiri dengan megah dan kokoh di pusat kota London. Bangunan itu mampu membuat Alia tercengang, nyaris tanpa henti. Terutama karena terdapat kubah masjid yang dijuluki Golden Dome, buah karya Sir Frederick Gibberd. Interior masjid juga luar biasa indah. Alia dan jamaah perempuan yang salat di balkon, bisa melihat prayer hall laki-laki di lantai dasar. Serta bisa melihat kelap-kelip lampu dan kristal pada chandelier keemasan dua tumpuk yang menjuntai, cukup panjang dari bagian tengah kubah. Karpet-karpet untuk salat juga besar-besar, dengan mebel yang tidak terlalu banyak. Di dinding bagian dasar kubah yang melingkar 360°, terdapat kaligrafi ayat-ayat suci Al Quran berwarna hitam, yang saling bersambung.
Alia mendongak ke arah kubah. Bagian dalam kubah dihiasi dengan geometri suci dalam tradisi Islam dan memiliki jendela kaca patri kecil di sekeliling dasarnya. Berisi bintang berujung enam belas berwarna biru kehijauan.
Subhanallah! Amazing! Alia bergumam.
Walaupun sakit kepalanya belum tuntas, ia merasa tenang sekali berada di dalam masjid dan perlahan beranjak untuk melihat sekeliling. Alia menyusuri jengkal demi jengkal prayer hall perempuan di bagian balkon. Bangunan masjid terasa sangat megah, sakral, dan membuatnya merinding. Melihat para jamaah dari berbagai ras dan negara, berkulit hitam dan berkulit putih. Rukuk, dan bersujud secara bersama-sama tanpa sekat-sekat ras, negara, apalagi status sosial. Dan terlihat akrab sekali saat para jamaah itu saling bertegur sapa.
Breathtaking both outside and inside.
Alia, Tania, dan Danar kemudian berjanji bertemu dengan Haidar dan Yusuf di sebuah kafétaria di lantai dasar masjid. Mereka lalu menikmati makan malam khas India Selatan, nasi biryani, yang sangat lezat, dengan potongan ayam berbalut rempah khas Asia selatan itu, yang memanjakan hidung dan lidah. Selepas makan, Alia menyempatkan diri ke sebuah toko buku yang penuh dengan koleksi buku-buku dari pengarang terkenal dunia. Dia membeli buku fenomenal berbahasa Inggris, SALADIN, karya John Man. Haidar pun tak mau kalah. Dia juga membeli novel best seller dunia, AND THE MOUNTAINS ECHOED, karya Khaled Hosseini.
Pukul enam tiga puluh sore hari, mereka berlima beranjak kembali menuju daerah Westminster, menggunakan tube underground. Mengejar sunset yang segera menyapa. Mereka berjalan ke Baker Street Station, lalu mencari Jubilee Line ke arah Stratford. Alia masih merasakan sakit kepala di bagian kanan saat duduk di dalam tube yang penuh sesak, tetapi mulai berkurang setelah menenggak tablet Paracetamol selepas makan. Haidar berdiri memegang tiang dan tali pegangan kereta, demikian juga Yusuf. Mereka berdekatan, tak jauh dari Alia, Tania, dan Danar, yang mendapat tempat duduk, dan berdampingan.
“Alia masih sakit? Kelihatan lesu?” tanya Haidar.
“Nggak terlalu, Mas. Habis minum obat tadi, mulai berkurang sekarang,” jawab Alia.
“Kalau masih sakit, bilang aja, ya. Aku juga bawa stok obat di tas. Mau minum-minuman atau sandwich?”
“Nggak, Mas. Ntar aja pas udah turun.”
Tube bergerak sangat cepat, dan tepat waktu, sesuai G-Maps yang Alia lihat di gawainya. Tube berhenti di setiap stasiun tak sampai 1 menit. Lalu berjalan kembali, melewati Bond Street Station dan Green Park Station. Menjelang menuju pemberhentian tujuan mereka di Westminster Station, penumpang masih sangat ramai, hampir tak menyisakan ruang untuk bergerak.
“Sorry. It’s Saturday!” ujar Yusuf, sembari mengangkat alisnya dan menengadahkan kedua tangannya setinggi pinggang. Kereta mulai melambat.
“No worries!” ujar Tania.
“That’s fine!” tambah Danar.
“It’s OK!” timpal Alia. “I can’t hardly wait!”
Tube berhenti. Semua pintu di sisi kiri membuka.
“Let’s go!” ajak Haidar penuh antusias.
Para penumpang berhamburan keluar, namun sangat tertib. Mereka keluar dengan antre satu persatu penuh sabar, dan memberi kesempatan terlebih dahulu kepada Madam dan Sir yang lebih tua dan beruban. Terlihat sepasang grandma dan grandpa menuju pintu keluar, mereka berjalan pelan dan membawa tongkat, serta payung. Yusuf dan kawan-kawan berada di belakang mereka, dan mempersilahkan keluar terlebih dahulu.
“Cepet…cepet… cepet! Nanti terlambat! Aku udah nggak sabar!” ujar Haidar, begitu tiba di Underground Station Westminster.
“Sabar, Mas Haidar. Sabar doong! Nanti aku kesandung. Lagian masih lama kok, setengah jam lebih lagi. Duuhh, rame banget ni stasiun,” keluh Alia, di tengah suara berisik para penumpang yang bergegas.” Tapi seru banget ya, suasananya.”
“Iya, nggak apa-apa kan kalau datang lebih awal.”
“Ini kota megapolitan. Nggak boleh kelihatan jalan dengan santai. Kalau terlihat lambat, dan nyantai, ketahuan deh kita orang Asia. Indonesia tepatnya!” ujar Yusuf, sambil terkekeh.
“Eh, tapi Jakarta kan juga gini, Mas,” Danar menyangkal.
“Hihi, iya. Tapi nggak seteratur di sini, kan?” tambah Yusuf.
Mereka berlima menyusuri tapak demi tapak lorong-lorong selebar empat meter di bawah kota London. Di dinding stasiun bawah tanah itu terpajang logo underground berbentuk rambu lingkaran merah, dengan tulisan putih di tengahnya berlatar biru, WESTMINSTER. Tak jauh kemudian menjelang EXIT setelah semuanya men-tap kartu Oyster, terdapat papan pengumuman. Sebuah peta besar, tube line, suatu petunjuk arah kota dan tempat-tempat tujuan di seluruh London dan sekitarnya.
“Kita ke EXIT yang mana ya, Mas? Aku lupa.” Danar bertanya kepada Yusuf.
“Bentar, udah lama juga nggak lewat sini.” Yusuf melihat-lihat beberapa penunjuk arah yang tergantung di atas kepala. “Biasanya ada gambar Big Ben di penunjuk arahnya.”
“Itu kali, Mas, di sana?” ujar Danar lagi, sambil menunjuk ke arah selatan.
“Oh iya. Di sana! Yuk! Yuk!” ajak Yusuf, menuju pintu keluar arah Westminster Millennium Pier, yang terdapat gambar Big Ben. Yusuf bergegas, disusul yang lainnya.
“Siaapp!” sambar mereka berempat.
Semua bergegas, berjalan cepat bahkan setengah berlari menuju pintu keluar. Karena berada di platform paling bawah, mereka harus menapaki jalan menanjak dan berliku, di jalur kiri. Setelah tiga menit barulah mereka menjejaki beberapa anak tangga hingga tiba di pintu keluar. Langit London yang cerah segera tampak.
“Alhamdulillah,” ucap Alia. “Akhirnya sampai juga.” Alia memegang kedua lututnya sambil membungkuk, sambil menarik napas dalam. Terengah-engah.
Semua semringah saat tiba di mulut pintu keluar Westminster Pier. Mereka kini berada di bawah gapura yang bertuliskan WESTMINSTER, Public Subway.
“Kayak mau ngejar apa ya, kita ini. Mau ke toilet nggak? Ada arahnya tuh.” Haidar juga memegang kedua lututnya yang terasa pegal berat. “Bikin keringatan, walau cuma sedikit.”
“Belum mau, Mas.” Tania terkekeh. “To chase Saturday sunset, Maaas,” jawab Tania serius. Lalu disusul dengan gelak tawa yang lainnya.
Alia melirik ke arah kanan. Di hadapan Alia, dan mereka, kini berdiri dengan kokohnya sebuah jam raksasa, Big Ben. Mereka kemudian pelan-pelan mendekati bangunan itu. Dari jauh sudah terlihat sebuah jam bergaya neo-gothic, yang menempel pada menara setinggi hampir 100 meter, The Elizabeth Tower. Jam di Big Ben menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Bagian bawah menara terdiri dari batu bata dengan lapisan kapur Anston berwarna pasir. Sisa dari ketinggian menara yang terdapat ujung yang lancip itu berlapir besi cor.
Semua terkesima, berhasil melihat Big Ben dari titik berdiri mereka yang sangat dekat, sekitar lima meter. Alia menarik napas dalam, kemudian melepaskannya pelan-pelan. Tak lupa masing-masing mengabadikan dengan kamera gawai. Di sekitar kompleks Big Ben, juga ramai sekali dengan pengunjung.
“Wowww! Amazing! Keren!” ucap Alia, kagum.