DESIBEL

Asroruddin Zoechni
Chapter #32

SEMALAM DI LIVERPOOL

“Oh ya, saya lupa kereta terakhir ke Liverpool jam 22, Mas Aria!” ucap Alia tiba-tiba, dan bergegas melihat jam tangan. Jam tangan menunjukkan pukul 22.15 waktu setempat. 

Alia merasa cukup kecewa, yang menurutnya karena kelalaiannya sendiri, ia tak mampu menaiki kereta menuju Liverpool. Ia pun tak tahu apakah akan melanjutkan perawatan di rumah sakit, atau diperbolehkan rawat jalan.

“Tenang, Alia. Jangan dulu pikirkan kereta itu. Yang penting kamu sehat dulu, ya,” pinta Aria lembut. “Kita kan tak pernah tahu kalau memang seperti ini kejadiannya. Kita hanya bisa bersabar.”

“Iya, Mas. Tapi aku masih kesal sekali dengan lelaki jahat itu,” ujar Alia geram. “Ku rasa ia bukanlah orang yang tidak berpendidikan, kan, Mas. Sekelas masyarakat Inggris loh, Mas, bisa berbuat seperti ini. Atau memang mereka nggak pernah tahu apa itu masyarakat Asia, budayanya, filosofinya, agamanya?”

“Sudahlah, Alia. Yang penting kamu selamat dari tindakan buruk itu.”

“Apakah memang begitu tipikal masyarakat sini, Mas?” tanya Alia, masih dengan wajah geram, dengan tangan yang mengepal kuat. 

Aria menggeleng. Ingin rasanya Aria membahas hal ini nanti saja, dan mengutamakan proses pemulihan Alia. Tapi, untuk menjaga perasaan dan mencegah Alia agar tidak lebih kecewa lagi, Aria pelan-pelan memberikan tanggapan. Sebelum melanjutkan, ia menawarkan Alia sebotol air mineral yang ia beli tadi di vending machine di dalam rumah sakit. Ia pun meminta Alia menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya untuk melepaskan rasa kesal yang terlampau kuat menghinggapi Alia. 

“Tidak semua seperti itu, Alia. Bahkan hanya sebagian kecil. Tergantung kota juga, Al. Kalau di kota dengan jumlah penduduk muslim misalnya sangat minoritas, kejadian seperti ini bisa menjadi warning. Tapi di Sheffield ini penduduk muslimnya lumayan banyak. Jadi, kalaupun memang ada kejadian ini, saya kira sebuah extraordinary event.”

Alia kembali menarik napas dalam, memejamkan matanya sejenak, lalu merasa lega. Ia tak henti-hentinya bersyukur atas kejadian ini yang menyelamatkannya dari tindakan yang lebih buruk lagi. 

“Terima kasih, Mas. Mohon maaf kalau aku kesal banget. Darahku rasanya mau mendidih tadi. Tapi, ya, berkat penjelasanmu, aku mulai menerima. Tak selamanya ya pikiran kita ini dapat dipahami oleh orang lain, apalagi orang asing ya. ”

Aria mengangguk. 

“Apakah karena kebencian mereka kepada orang Asia dan muslim juga, Mas?.

Aria kembali mengangguk. “Maybe,” jawab Aria. Ia senang melihat Alia merasa lebih nyaman dan lega. 

“Oh ya, sejauh ini kita tidak perlu takut dan speak up jika ada kejadian serupa yang menimpamu, Alia. Pemerintah setempat biasanya langsung melakukan penanganan kepada pelaku kejahatan.  Hate speech, racism, dan sejenisnya sangat tidak ditoleransi di kota-kota di Inggris. Jadi, kalau ada kejadian pada hari ini, segera speak up, dan laporkan kepada Dewan Kota, atau organisasi muslim setempat.”

“Siapa, Mas Aria.”

Ia lantas berkontak dengan dokter yang merawat Alia, dan membicarakan hal yang serius terkait kondisi Alia. 

Alia pun merasa sakit di tangannya mulai berkurang pelan-pelan akibat injakan kaki lelaki misterius itu. Tangannya ikut menjadi korban kebiadaban lelaki itu. Jika saja Alia membiarkan tanpa mengorbankan tangannya sendiri, implan pasti sudah hancur lebur. 

Ia pun mulai penasaran dengan sosok Jason yang membantunya menaklukkan penjahat. Sambil menunggu kabar dari Aria, ia pun bergumam dalam hati, sambil sesekali membuka mata, lalu menutupnya kembali. 

“Baik sekali, Mr Jason. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari senyumnya dan caranya memperlakukan aku. Tangannya hangat saat membopong tubuhku. Seperti ada aliran listrik lembut yang membelai setiap jengkal tubuhku yang ia pegang. Hmmm, siapa dia ya? Apakah aku mengenalnya? Namanya siapa tadi ya? Jason atau James, ya? Nggak, aku nggak kenal dia, tapi kenapa rasanya begitu dekat. Semoga Mas Aria mau menemani jika suatu saat aku ingin menemuinya.”

Cukup lama Alia menggumam sendiri. Tak hanya mengenang Jason, tetapi juga kejadian di Meadow Hall tadi, dan kejadian demi kejadian dalam hidupnya, yang tampak bagai benang kusut yang bersemayam di dalam tempurung kepalanya. Ia masih tak habis pikir kenapa lelaki itu begitu membeci dirinya. 

Aria membawa kabar terbaru. Alia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan kembali ke rumahnya. 

“Alhamdulillah, Alia bisa istirahat di rumah sekarang.”

Menyambut pemberitahuan dari Aria dengan suka cita, Alia lupa harus naik kendaraan apa untuk ke Liverpool.

“Duh, ini kan sudah jam 12 malam, Mas. Terus kita naik apa ke sana? Nginap di sini?”  tanya Alia sambil sedikit terbahak. 

“Ya, nggak mungkin nginap di RS ini, Alia,” balas Aria. 

“Terus?”

“Ya, aku kan bawa mobil dari Edinburgh. Ya memang seharusnya kita pulang ke Liverpool saat ini juga sebelum terlalu larut malam?”

“Serius, Mas?” tanya Alia dengan mata melotot. 

Lihat selengkapnya