Alia sangat terperanjat ketika Aria menyambanginya di perpustakaan LSTM, sehari setelah mereka berpisah di depan flat. Alia tak habis pikir mengapa Aria rela menghabiskan waktunya hanya untuk menemuinya di perpustakaan, dan menanyakan perkembangan pergelangan tangan yang masih terbalut verban elastis. Tapi Alia ingat saat perbincangan di dalam pesawat, bahwa Aria dulu pernah melamar menjadi mahasiswa LSTM tetapi gagal karena tak sesuai harapan orang tua Aria. Dulu ia bahkan beberapa lama tinggal di Liverpool. Jadi, kunjungan Aria semacam melepas kangen dengan cita-cita awalnya dulu untuk dapat berkuliah di Liverpool. Pertemuan di perpustakaan itu juga menjadi semakin membuat Aria merasa tak ingin berjauhan dengan Alia. Alia mulai merasakan hal serupa, tapi ia belum berani untuk meneruskan perasaan itu. Ia masih ingat Haidar, yang berjanji akan melamarnya sesegera mungkin.
Memasuki musim dingin, ditambah beban berat dengan tugas tugas kampus, membuat Alia stres dan sering telat makan. Hal itu memicu vertigonya kampus, dan mengalami penyakit yang disebut seasonal affective disorder. Vertigo membuatnya pingsan, dan langsung dirawat di Liverpool Royal Hospital selama tiga hari. Selama dirawat di RS, Alia menyeluh nyeri di kedua telinga. Hal tersebut mengharuskan Alia melepas prosesor implan koklea selama perawatan, sehingga Alia tidak bisa mendengar sama sekali. Komunikasi dengan petugas hanya dilakukan dengan bahasa isyarat atau bahasa tulisan. Di RS, Alia dirawat oleh Dokter Syuhaib, yang juga kenalan Aria. Nurul yang sejak awal curiga Alia memiliki kelainan atau kebutuhan khusus, akhirnya dengan merawat Alia selama di RS mengetahui bahwa Alia seorang tunarungu. Alia meminta Nurul untuk merahasiakan hal tersebut dari Aria.