Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #8

Aku Harus Apa?

"Siapa yang mau menjelaskan ini pada saya?" tegas Rektor kampus sambil menunjukan selembaran itu ke atas meja. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, tanda dia serius dan meminta salah satu di antara Mike atau Tiana menjelaskan masalah yang terjadi di kampus.

Tania dan Mike terdiam, Febian menunggu di luar. Bibir keduanya terbungkam, hanya saling melirik.

Laki-laki berkepala botak dan berpenampilan brewok melihat kedua mahasiswanya secara bergantian. "Jadi kalian gak ada yang mau menjawab pertanyaan saya?"

Keduanya tetap terdiam. Membungkam dengan kepala menunduk. "Baik kalau gitu, kalian berdua saya D.O dari kampus ini dan beasiswa kamu, Tania, akan saya cabut!!"

"Apa!!" Jawab keduanya serempak.

"Gak bisa, Pak! Kenapa harus di D.O?" protes Tiana terperangah.

"Kalian tau kan, kesalahan kalian apa?" tanya Rektor itu beranjak bangun. Lalu berjalan ke arah belakang Tania dan Mike. "Kesalahan kalian sangat fatal, mencemarkan nama baik kampus dan predikat kampus terbaik selama sepuluh tahun, lalu dengan gampangnya kalian merusak reputasi kampus yang sudah dibangun puluhan tahun!" lanjutnya.

"T-tapi Pak ...."

"Gak ada tapi-tapian, Tiana!" bentak pria berusia 50 tahun itu. "Saya sangat kecewa dengan kamu, pihak kampus sudah memberikan kesempatan untuk belajar. Tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan ini, Tiana!" lanjut laki-laki itu sangat marah. "Dan kamu, Mike! Pihak duta besar memohon pada kami agar bisa menerima kamu sebagai mahasiswa pertukaran, kami nemerima dan memberikan kamu kesempatan untuk belajar di sini. Ternyata sama mengecewakannya," tegas laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa sekaligus kesal pada dua mahasiswa di depannya.

Tiana dan Mike hanya terdiam mendengarkan ocehan rektor mereka. "Sekarang kalian keluar! Saya udah gak mau penjelasan apa-apa lagi dari kalian." pekik laki-laki setengah abad itu menunjuk ke arah pintu.

"Iya, saya tau semua ini salah saya, Pak. Tapi saya gak mau keluar dari sini. Saya masih mau belajar sampai lulus!" kata Tiana memohon, dia tidak peduli bila harus bersujud sekalipun asalkan beasiswanya tidak dicabut. "Saya mohon, Pak, berikan saya kesempatan sekali lagi!"

Lutut gadis itu menekuk, memohon sekali lagi pada rektor kampus itu.

"Ti, elu ngapain? Gak perlu sampai merendahkan diri elu sendiri, Ti!" ujar Mike hendak menarik gadis itu berdiri. Namun, gadis itu menepisnya.

"Saya gak mau keluar dari kampus ini, Pak. Saya berjanji akan memperbaiki semua kesalahan saya ini, Pak!" Tiana memohon, mengiba dengan wajah memelas, tidak peduli bagaimana caranya agar beasiswanya dikembalikan.

Laki-laki tua itu mendengus, dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Tiana. Dia juga merasa, kesempatan emas yang diberikan pada gadis itu disalah gunakan dengan sia-sia. Menurutnya, sangat disayangkan kepintaran Tiana harus terbuang akibat perbuatannya sendiri.

"Maaf Tiana, keputusan saya sudah bulat. Saya gak mau dipecat hanya gara-gara ulahmu, dan tentu saja, reputasi kampus ini akan bertambah jelek kalau saya membiarkan kamu tetap menerima beasiswa dan kuliah di sini," terang laki-laki tua itu enggan menatap wajah Tiana.

"Tapi Pak ...."

"Silahkan keluar, dan mulai detik ini kamu bukan lagi mahasiswi kampus ini!" tandas laki-laki itu engga memberi kesempatan yang dipinta Tiana.

Lihat selengkapnya