"Tianaaa!" pekik kedua laki-laki berwajah bebak belur menghampiri Tiana. Gadis itu terdiam, sakit, perih dan kesal, itulah perasaanya saat ini. Begitu mengaduk dalam batinnya.
"Elu gak apa-apa?" tanya kedua laki-laki tampan bebarengan, menawarkan pertolongan bersamaan. Sekali lagi, perempuan cantik itu tak menjawab, tatapannya tertuju pada Mike. Sinis dan nanar. Lalu dia menepis tangan Mike dengan kasar. Dia lebih memilih tangan Febian untuk menolongnya.
"Gue anter elu pulang sekarang!" ujar Febian membantu Tiana berdiri. Mike terdiam, kali ini tak bereaksi seperti tadi. Memandang Tiana dipapah Febian masuk ke mobil. Ada rasa bersalah menyelinap di relung batinnya. Lalu, tatapan itu berganti arah. Memandangi tangannya bekas memukul pipi Tiana. Merasa bersalah pada perempuan yang sudah membantunya selama dia di Indonesia.
"Maaf Ti, gue benar-benar gak sengaja. Perbuatan gue emang bejat, menjijikan. Gue benar-benar seperti orang gila yang kehilangan arah. Semua ini benar-benar bukan kemauan gue, dan suatu hari nanti elu mau mendengarkan penjelasan gue yang sebenarnya!" kata Mike lirih. Dia pun berbalik ke lapangan bola, mengambil tas dan pakaian yang dia tinggalkan di sana.
Di dalam mobil.
"Elu benaran gak apa-apa?" tanya Febian kuatir. Dia berusaha menyentuh pinggiran bibirnya yang sedikit robek.
Gadis itu menggeleng, "Gue gak apa-apa, Bi!" Tiana menghindar sentuhan tangan Febian ke bibirnya.
"Tapi itu keluar darah, biar gue lap dulu darahnya." Febian bergegas mengambil tisu dan obat luka di dashboard mobil. Kemudian meneteskan obat luka itu ke tisu. "Sini, gue bersihin dulu biar gak infeksi," kata Febian.
"Gak usah, Bi, nanti di rumah aja gue obatinnya." Gadis itu mengelak.
Febian menahan dagu Tiana yang hendak memandang luar jendela. "Udah diam, gue yang obatin. Kalau infeksi nanti elu sendiri yang repot!" tegas Febian. Kemudian membasuh tisu pelan-pelan ke luka Tiana.
"Auh!" ringis Tiana.
"Sakit ya?" Tiana mengangguk malu-malu.
"Pelan-pelan dong!" protes Tiana meringis.
"Maaf, gue akan pelan-pelan." Febian membasuh pelan-pelan dengan ekspresi serius. Tiana memperhatikan wajah Febian yang ganteng dan manis. Alis yang hitam legam nan tebal, bibir berwarna merah alami, juga hidung yang mancung. Tiana tanpa sadar tersenyum.
Lalu ....
Deg!
Deg!
Deg!