Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #10

Pertentangan.

Di apartemen mewah sewaan milik Mike.

Dia masuk ke dalam dengan wajah lesu. Dilempar tas ke sofa. Kedatangannya ditunggu Giorgino, dia terlihat cemas sekaligus senang Mike sudah pulang. Laki-laki paruh baya itu menghampiri Mike. Ekspresi wajahnya begitu ambigu.

"Tuan Muda ... akhirnya Tuan muda pulang juga."

Dahi Mike mengkerut. Melirik sebentar ke

Pelayannya. Laki-laki tua di hadapannya terlihat cemas. Berdiri dengan jari-jari yang terus dimainkan dan wajah yang terlihat cemas. "Kenapa? Udah lu bilang aja sama gue, Gior!" kata Mike, tangannya menyambar gelas dan teko dari meja. Air mengucur dari bibir teko ke dalam gelas perlahan-lahan.

"Anu ... itu Tuan muda ..."

Mike bergegas menenggak semua air di gelasnya buru-buru. "Lu bisa kan, ngomong yang benar? Anu ... anu ... anu apa?"

"Iya, m-maaf Tuan. Tapi ini gawat, Tuan Besar ... dia ... dia ..." Giorgino tampak takut mengatakannya, terbata-bata dan terlihat tidak tenang. Matanya melirik ke arah panggilan telepon.

"Dia apa, Gior? Cepat katakan, jangan bertele-tele!"

"Papah Anda menelepon!" ungkap Giorgino. "Dia mau bicara dengan Anda, Tuan Muda, dan sepertinya beliau marah besar."

Mata Mike melotot. "Apa? Mau ngapain Papah telepon gue?" tanya Mike marah. Lalu dahinya mengkerut, "Lu gak bilang masalah kemarin ke Papah kan?"

Giorgino menggeleng. "Mana berani saya melakukan itu, Tuan," jawab Giorgino takut-takut.

Mike berdehem dengan muka masam. Dia paling malas berurusan dengan Papahnya. "Ya udah, sini teleponnya!" Kemudian pelayannya memberikan ponsel pada Mike. Pemuda itu meletakan ponsel di telinga.

"Mike, apa-apaan kamu, huh?" Suara menggelegar dari balik ponsel memekak telinga. Mike menjauhkan ponselnya sejauh mungkin dari telinga. "Apa yang udah kamu lakukan di Indonesia, sampai-sampai kamu harus di D.O dari kampus!" bentaknya.

"Pah, aku bisa selesaikan ini semua. Udah, Papah diam saja di rumah dan bekerja dengan tenang. Lagipula ini bukan masalah besar." Dengan santai dia menjawab, kemudian Mike menjatuhkan bokongnya ke sofa. Dia benar-benar pusing mendengar ocehan Papahnya yang selalu keras masalah pendidikan.

"Apanya yang bukan masalah besar? Apa kau sadar atas perbuatanmu itu, Mike? Ini sudah kesekian kali Papah mencarikan kampus di luar Eropa agar kamu tidak tergantung dengan nama besar Papah, tapi ternyata sama saja!" sergah Papahnya cepat. "Kamu membuat masalah di setiap negara orang."

"M-maksud Papah?"

"Jangan pikir Papah gak tau, Mike. Kamu memperkosa seorang gadis di Indonesia kan?" Pertanyaan Papahnya membuat jantung Mike berdenyut hebat.

"Sial, bagaimana Papah bisa tau masalah ini?" bisiknya membatin. Lalu melirik ke arah Giorgino sambil menunjuk-nunjuk. Pelayanannya mengernyit dahi, lalu menunduk takut oleh tatapan Mike. Dia selalu saja jadi tersangka bila ada masalah antara anak dan majikannya.

"B-bagaimana Papah tau?" selidik Mike ingin tau kebenarannya. Sekali lagi dia melirik pelayannya yang berdiri di belakang. Kali ini, tatapan itu sangat menakutkan.

Lihat selengkapnya