Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #11

Tiga Pikiran Berbeda.

Mike, Febian dan Tiana duduk di kursi di kamar masing-masing. Lalu, ketiganya mengeluarkan foto kebersamaan mereka bertiga secara serempak.

Mike kemudian menjatuhkan diri ke atas kasur. Lalu diangkat tinggi-tinggi foto itu, kenangan yang indah, mereka bertiga tersenyum tanpa beban. Begitu akrab bak keluarga. Tak ada permusuhan, teman yang bisa saling berbagi kala itu. Bibir Mike menyungging, lalu pikirannya berkutat pada satu fase di mana hubungan ketiganya merenggang.

Semua berawal dari sikap Febian yang tiba-tiba berubah. Pemuda berambut legam itu menjadi sinis pada Mike. Mulai bertingkah aneh, menghasut dan menjauh dari persahabatan mereka bertiga. Mengadu domba antara dia dan Tiana. Kadang juga, Febian menjadikan dia dan Tiana kambing hitam agar saling membenci juga dibenci oleh seluruh penghuni kampus. Anehnya, Febian hanya sinis kepada dia. Yang Mike bingung, dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Febian. Bahkan Mike mengklaim bahwa sikapnya sudah berubah dari saat dia menjadi mahasiswa pertukaran di negara lain. Apalagi ketika dirinya bertemu Tiana dan Febian waktu itu. Dia tidak lagi angkuh atau memandang rendah mahasiswa lain.

Entahlah, Mike tidak ingat kapan Febian berubah sikapnya menjadi sangat licik. Saat itu, dia pernah mengatakan isi hati dan perasaan pada Tiana. Walaupun ditolak, tapi Mike tetap ingin bersahabat. Dia hanya ingat bahwa Febian seolah tidak terima dengan pernyataan rasanya pada Tiana. Di saat itu juga, Febian mulai menghasut dan mengadu domba antara dia dan Tiana.

"Apa dia cemburu ya?" bisik batin Mike mencoba mencerna tiap kejadian itu. Dia tidak mengerti. Bahkan tidak menyadari bahwa Febian lambat laun bermain licik padanya. Berkamuflase menjadi sahabat dan musuh. Hingga kini, pemuda bule itu baru menyadari semua itu hanya jebakan. Sebuah fitnahan buat dia yang dirancang sedemikian rupa untuk dia agar menjauh dari Tiana.

Mike menghela napas. "Seharusnya, elu gak melakukan hal bodoh pada perempuan yang benar-benar mencintai elu, Bian! Tiana menyukai elu, bukan gue!" ungkap Mike tentang kebenaran hati Tiana. Tetapi gadis itu tidak mau merusak persahabat ketiganya agar tetap bisa menjadi sahabat tanpa ada permusuhan.

"Provokasi elu pada gue untuk membenci Tiana membuat elu akan kehilangan dia!" lanjutnya. Mengelus-elus wajah cantik Tiana di dalam figura.

Tetapi nyatanya, permusuhan itu muncul dari seorang Febian yang tak lain adalah ketua BEM kampus. Memprovokasinya hingga membenci Mike dengan alasan penolakan pernyataan cintanya pada Tiana. Febian membuat Mike muak dengan segala tingkah yang ada di diri Tiana, hingga pemuda itu menuduh Tiana sebagai wanita gampangan yang bisa kapan saja ditiduri olehnya juga. Mike menghela napas. Lalu meletakan fotonya di samping kepala, mata biru nan indah itu melihat langit-langit kamar apartemen.

Sekarang yang ada di pikirannya adalah Papahnya, beliau menyuruh Mike untuk menikahi Tiana. Memang niat hati ia ingin bertanggung jawab. Tetapi dia belum siap untuk menikahi atau berumah tangga. Pikiran Mike menjadi mumet. Rasanya mau meledak memikirkan itu semua saat ini.

Berbeda dengan Tiana, yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini masa-masa mereka bertemu dulu. Laki-laki bermata blue ocean itu tak sengaja bertabrakan dengan Tiana. Laki-laki asing yang tersesat mencari jalan menuju ruang pendaftaran mahasiswa baru pindahan. Pemuda itu masuk ke kampus itu saat Tiana sudah semester 2.

Lihat selengkapnya