"Ti ... Tiana! Cepat keluar, Ayah mau bicara sama kamu!" teriak laki-laki berkacamata itu dari ruang tamu. Nada suaranya terdengar menggelegar dan sangat marah. Tiana yang sedang merebahkan kepalanya di meja belajar, terkejut oleh suara Ayahnya yang lantang. "Ti, Ayah bilang cepat keluar, ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu!" teriaknya sekali lagi. Gadis itu bangun dengan terpaksa.
"Iya Yah, sebentar." Gadis itu menyeka sisa airmata, menghela napas agar sedikit tenang. Lalu ke luar kamar dengan hati yang tak tenang. Di ruang tamu, dia disambut oleh wajah Ayahnya yang tak enak dipandang. Kesal, marah dan ekspresi kecewa terlihat jelas di wajah tampan itu. Menunduk sambil melihat layar ponsel.
Gadis itu melangkah pelan. Batinnya gelisah, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan sekitar foto kejadian malam laknat bersama Mike.
"Duduk di sini sebentar, Tiana!" titah Ayahnya tegas. Menunjuk kursi di depan laki-laki yang sudah merawatnya sendirian. Tiana melangkah ragu, ada rasa ketakutan dalam jantung yang berdebar kencang. Pikirannya sudah menduga apa yang akan terjadi. Kali ini, Tiana tidak tau cara menghadapi Ayahnya. Terlebih, nada suara laki-laki itu terdengar tak bersahabat. "Cepat duduk sini, ada yang mau Ayah omongin sama kamu!"
Tiana mempercepat langkah kakinya. Lalu dia tak lantas duduk, berdiri, tidak berani duduk di sofa depan Ayahnya. Wajah Ayahnya terlalu menakutkan untuk dia tatap.
"TUNGGU APALAGI! CEPAT DUDUK SINI, TIANA!" tunjuk laki-laki berkacamata itu setengah berteriak ke sofa di depannya, wajah itu terlihat serius. Emosinya menjadi tak stabil. Tatapan tajam dan melebar, di bibir Ayahnya tak ada senyuman yang biasa ditunjukan pada gadis itu, dan ini kali pertama Tiana mendengar Ayahnya berteriak.
Tiana menuruti, dia tidak berani membantah dengan ucapan Ayahnya. Lalu duduk di hadapan laki-laki yang sudah merawat dia selama puluhan tahun. Jantungnya masih berdebar kencang. Kuku di jari dia mainkan, tidak berirama, asalkan dia tenang, Tiana tak peduli suara kuku-kukunya merdu atau tidak.
Keduanya terdiam sejenak, kemudian mata itu kini menatap Tiana. Tatapan menyeramkan yang belum pernah gadis itu lihat sebelumnya. "Kamu tau, siapa wanita di dalam foto ini?" tanya laki-laki itu menunjukan Short Message Service di layar ponsel.
Deg!
Tiana cukup terkejut, namun dia menyadari hal ini pasti tidak akan ada yang bisa dia sembunyikan, dan sudah menduga kejadian semalam di kampus bersama Mike akan sampai juga ke telinga Ayahnya. Gadis itu tertunduk. Menyesal, bersalah pada orang tua tunggalnya. Namun, itu bukan sepenuhnya salah Tiana. Dia hanya korban pelecehan seksual. Bukan pelaku yang harus diintrogasi seperti ini.
Gadis itu menghela napas, ingin berkata jujur, namun ia tidak ingin laki-laki yang merawatnya dengan susah payah marah, juga kecewa. Jujur saja, saat ini hati Tiana hancur, remuk redam bak kaca yang jatuh dari ketinggian. Bahkan hancurnya sudah berkeping-keping tanpa bentuk. Seolah-olah cita-cita dan impiannya juga lenyap dalam hitungan detik semenjak kejadian semalam.
Ditatap sejenak wajah Ayahnya yang menahan kekecewaan. Ada segurat kesedihan dalam sorot mata Ayahnya saat dia menatap. Tiana menghela napas, bibir mungil itu terasa kelu saat ingin berkata jujur.
"Kenapa diam, Tiana? Jawab pertanyaan Ayah!" tanya Ayahnya sekali lagi. Tak sabar ingin mendengar perkataan jujur putri semata wayangnya itu.
"M-maaf Ayah!" jawab Tiana lirih. Pada akhirnya, airmata itu menetes tanpa diminta.