Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #13

Cerita Masa Lalu Romy

Laki-laki setengah tua itu menahan agar airmatanya tidak ada yang menetes. Ia melihat Tiana yang tadi sempat berlutut menahan kakinya. Romy menyuruh Tiana bangun. Tangan itu gemetaran ketika hendak menyentuh pipi putri semata wayangnya. Buah cinta dari pernikahan dengan istrinya.

Wajah Tiana sangat mirip wanita yang ia nikahi 20 tahun lalu. Dulu, ia menikah muda. Menikah karena sebuah keterpaksaan, tak ada cinta di hati mereka berdua saat menikah dulu. Pernikahan antara dia dan wanita itu begitu hambar tanpa bumbu perasa yang membuatnya indah. Namun, seiringnya waktu, ketika ia tau istrinya hamil, sikap Romy berubah. Ia menjadi sangat perhatian dan sepenuh hati mencintai wanita dari Ibu Tiana.

Romy menghela napas, sesak memang bila ia mengingat semua kejadian demi kejadian yang terjadi dalam perjalanan hidupnya. Tak ada cerita indah di pernikahan Romy, hanya rasa sakit yang menggores luka paling dalam di hati. Saat itu, kala ia mulai mengakui wanita itu sebagai istri. Mencintai segenap hati, badai paling terdahsyat menerjang mahligai rumah tangganya.

Tak ada yang salah dengan Romy, dia tampan. Bahkan banyak perawan atau janda di desa tempatnya tinggal mengejarnya. Hanya saja, kekurangan dalam hidupnya dari segi materi atau harta. Dia bukan lahir dari keluarga kaya, hingga wanita itu harus pergi dari hidupnya dengan laki-laki lain yang jauh lebih kaya.

Lagi, Romy menghela napas panjang. Menatap sedih pada putrinya.

"Ayah cuma gak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Jujur, Ayah takut semua warga desa menghujatmu, melakukan perundungan," kata laki-laki itu sambil menarik napas dalam-dalam. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak bahkan jauh lebih sesak ketika ia mengingat hancurnya pernikahan dia dulu. Lalu kepalanya mendongak, tidak kuasa dia memandang atau sekedar membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada putrinya.

"Kamu tau kan, apa hukuman bagi orang yang telah berbuat zinah atau hamil di luar nikah di desa ini, Ti?" tanya Ayahnya melunak, seolah dia ikhlas dan pasrah yang akan terjadi hari ini, esok atau nanti. "Hanya itu, Ti, hanya itu yang Ayah takutkan bila semua ini terjadi sama kamu."

Tiana mengangguk. "A-aku paham, Yah," sahutnya menunduk malu. "Maafkan Tiana yang udah menghancurkan harapan Ayah. Maafkan Tiana juga membuat Ayah hilang impian oleh perbuatan aku ini!" katanya lagi lirih. Sangat lirih. Pelan-pelan dia melangkah mendekati Romy, lalu dia menyentuh lengan besar sedikit berbulu itu dengan lembut.

Tak lama, suara isak tangis terdengar pelan. Buliran-buliran air bening runtuh oleh rasa perih yang mendadak muncul di hati. "Aku memang gak berguna, seharusnya aku bisa melawan orang itu dan menahannya. Tapi ... maaf, aku terlalu lemah untuk melawannya." Tiana mendongak. Menatap sedih Ayahnya yang enggan menatapnya. "Ayah boleh kok, benci aku. Ayah juga boleh memarahi aku. Ayah juga berhak memukulku sampai puas!"

Laki-laki itu terdiam, kata-kata putrinya membuat hatinya luluh. Melemah, bahkan ikut menangis. "Apa kamu kenal laki-laki itu?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dengan suara sedikit tercekat di tenggorokan.

Tiana terperangah. Lalu mengangguk pelan.

"Apa kamu cinta dia?"

Kali ini, pertanyaan Romy membuat Tiana tersentak. Ia menatap ayahnya dengan tatapan sendu.

"Apa kamu mencintai laki-laki itu, Ti?" tanya Romy sekali lagi.

Mata itu berputar, lalu berakhir menatap lantai. Menunduk lebih dalam. "A-aku ... a-aku ...." jawab Tiana gugup, jantungnya berdebar. Namun, dia tidak sepenuhnya tau apakah yang dia rasakan selama ini rasa suka atau bukan. Sebab, hatinya masih ada Febian yang sudah menjadi teman masa kecil dan tingkahnya sudah membuatnya jatuh cinta saat pemuda itu menyelamatkan dia di sungai. Kemudian, gadis itu menggeleng dengan berat hati.

Romy menghela napas. Jari-jari itu menggenggam erat pukulan kasti, rasanya ia ingin melepaskan rasa kesal yang sedari tadi ia tahan. "Lalu kenapa kamu mau melakukan dengan laki-laki sialan itu, Ti?"

"Maaf ... sekali lagi aku minta maaf." Tiana mengangkat tangan Romy dan menepuk-nepuk ke pipinya. "Ayah bisa pukul aku," katanya semakin lirih. "Aku pantas dipukul oleh Ayah yang sudah merawatku dengan susah payah." Kemudian kepala itu menunduk kembali. Menyeka airmata yang sulit berhenti.

"Bagus! Dengan begini Ayah bisa menghabisinya dan kamu bisa melanjutkan hubunganmu dengan Febian!" seru Romy tegas. Dia lalu melenggang, hendak keluar.

"Tunggu!" Tangan gadis itu menahan kesekian kalinya. "Tunggu Ayah, jangan lakukan itu. Tindakan Ayah sama saya perbuatan yang melanggar hukum!"

Lihat selengkapnya