Malam semakin larut. Bulan separuh lingkaran, bertengger kesepian tanpa kerlap-kerlip cahaya bintang. Malam ini, sepi, hening, dan seluruh warga desa sudah lelap dalam mimpi yang membuai. Ya, terlelap dibalut rasa lelah yang membuat mereka tidur bak orang mati.
Tapi tidak dengan Tiana. Dia berbaring gelisah dengan segudang pikiran yang menggangunya. Tiana tidak dapat tertidur pulas, sedetik saja matanya tetap tak terpejam, bayangan itu pasti akan menari-nari dipelupuk mata. Sangat jelas.
Tiana terduduk, lalu menenggak air minum dari atas meja. Lalu termenung, kembali lagi ingatan-ingatan tentang ketakutan yang menyelimuti dirinya pelan-pelan. Helaan napas berhembus panjang tak bertepi.
Dia pusing sendiri, merasa jijik sendiri. Tidak bisa berbuat apa-apa setelah kejadian itu. Bodohnya dia, seolah dia menjadi seorang gadis lemah yang tidak mampu melawan Mike di kejadian itu. Padahal dia mampu melakukannya, andai saja Tiana berusaha melawan lebih keras, hal itu tidak akan terjadi padanya. Amarah Ayahnya pun tidak akan meluap-luap.
"Ada apa denganku?" pikir Tiana. Datang-datang jantungnya berdenyut kencang, agak nyeri. Dia meremas baju bagian dada sekencang mungkin. "Bodoh!" pikirnya lagi. "Kenapa semua itu baru kepikiran? Apa gue menyukainya sehingga gak melawan sedikitpun?" bisiknya membatin.
Lalu terdiam, dia mengamati ritme detak jantungnya sangat cepat. "Jatuh cinta kah gue?" gumamnya pelan.
Ting.
Suara pesan masuk memberaikan lamunanya. Dia menoleh. "Febian?" Bergegas dia meraih ponselnya dari meja, kemudian membuka pesan itu.
"Boleh gak gue ketemu elu sekarang, Ti?" tanya Febian pada pesannya. Gadis itu tidak langsung menjawab, dia melirik ke arah jam di ponselnya. Jarum pendek jam sudah berada di angka 11.
"Sudah jam 11, mau ngapain dia ngajak gue ketemu?" oceh Tiana. Kemudian membalas pesan Febian.
"Penting!" balas Febian beralasan.
"Tapi ini udah malam banget, Bi. Lagipula jalanan udah sepi banget. Gue takut keluarnya."
"Tunggu di luar. 10 menit lagi gue sampe." Balasan Febian membuat Tiana mengernyitkan dahi.
"Apa-apaan nih, anak? Gak punya jam ya, di rumahnya?" keluh Tiana. Kemudian dia meletakan ponselnya. Berlari ke lemari, mulai memilih-milih baju hangat untuk keluar.
Ting.
Belum selesai dia memilih baju hangat, ponsel sudah kembali berbunyi. Tak seberapa lama nada panggilan menggema seantero ruangan, bagi Febian balasan pesan dari Tiana terlalu lama. "Iya sebentar!" kata Tiana bingung sendirian memilih baju. Lalu diambil baju hangat berwarna hijau tosca sebagai pilihan terakhirnya.
"Cepat banget sampenya," gumam Tiana. Lalu keluar kamar. Berjalan mengendap-endap bak maling di tengah minimnya cahaya lampu. Tiana mengunci pintu rumahnya setelah berhasil keluar dan bebas dari pantauan Ayahnya.
"Ti, cepat masuk!" titah Febian. Gadis itu segera masuk sehabis mengunci pintu pagar.
"Sebenarnya kita mau ke mana, Bi?"