"Gue gak akan lepasin sebelum gue mendapatkannya!" seru Febian mulai menggerayangi tubuh Tania.
Tiana berusaha menghindari tiap kecupan Febian yang menghujani dirinya. Kemudian dia mendorong kuat-kuat pemuda itu hingga menjauh darinya.
Lalu, suara keras tamparan gadis itu membuat Febian terdiam. "Bajingan lu, Bi!" pekiknya kecewa berat. Menatap nanar, matanya mulai terasa perih kala rasa kecewa sudah sangat besar terpupuk di hati. Berembun, tetapi Tiana bisa menghentikan desakan dada yang begitu sesak, menghentikan desakan embun yang sudah memenuhi tiap ruangan di matanya.
"Iya, gue emang bajingan, dan elu tau kenapa? Semua itu gara-gara Mike, sikap elu berubah sama gue semenjak Mike hadir di antara kita, Ti!" ungkap Febian. Menganggap rasa kecewa Tiana tak berarti apa-apa buat pemuda itu. "Gue jadi gila karena elu yang terlalu gampangan buat jatuh cinta sama laki-laki manapun!"
"A-apa? Maksud elu apa sih, Bi? Gue benar-benar gak paham?" Kekecewaannya kian mendalam, perih. Embun di mata itu mengkristal sedikit demi sedikit. Lalu jatuh tanpa diminta.
"Elu, cewek sok suci yang pernah gue kenal. Padahal elu gak lebih dari sekedar seorang pelacur, Ti!" Febian terus mengoceh tanpa berhenti. Mengeluarkan unek-unek yang dia simpan terlalu lama.
Plaak!!
Lagi, satu tamparan menambah luka merah di wajah Febian. Kali ini, Tiana mengeluarkan banyak tenaga. "Gue gak nyangka semua itu keluar dari mulut elu, Bi!" Ucapan Febian membuat dia terkejut. Bibirnya bergetar saat mengungkap kekecewaannya pada teman masa kecilnya itu. "Padahal kita adalah teman, bahkan gue selalu menganggap elu seperti saudara kandung gue sendiri. Tapi sekarang ..." Tiana mengusap airmata yang jatuh dari pinggiran pelupuk matanya. "Baru sadar kalau gue udah salah menganggap elu orang yang paling baik sedunia!"
"Gue gak mau dianggap saudara sama elu, gue cuma mau elu jadi pacar gue, Ti!" bantah Febian kesal selalu dianggap saudara. Namun sebenarnya, di hati Tania paling dalam gadis itu menyukai Febian sebagai seorang laki-laki, bukan seorang teman maupun saudara kandung. Dia merubah pikirannya kala dirinya sudah terjamah laki-laki lain dan juga ancaman dari Ibu pemuda itu.
Tiana tidak menolak Febian, tapi tubuh kotor serta hilang keperawanannya membuat dia merasa Febian jauh lebih pantas mendapatkan wanita lain dibanding jadi pacaranya.
Beberapa detik kemudian Febian tertawa. "Udahlah, Ti, gak usah munafik. Bukannya elu suka disentuh banyak laki-laki," ujar Febian semakin menjadi-jadi memfitnah Tiana. "Gue tau itu cuma akal-akalan elu aja, biar elu bisa disentuh Mike dan menghindari gue 'kan?"
Tiana terdiam, dadanya terasa berdenyut, perih dan rasanya sangat sakit mendengar pernyataan dari bibir Febian. Andai saja kesuciannya masih terjaga dan tidak ada ancaman dari Mila, mungkin Tiana akan mengatakan bahwa dia juga suka pada pemuda yang sedari lama dia kagumi. Namun sekarang yang ada di hatinya adalah sebuah kebencian mendapati sikap Febian yang tidak jauh berbeda dari Mike.
"Sekarang, gue akan kasih elu yang pernah Mike kasih sama elu, Ti!" Febian menyergap Tiana yang terhimpit tembok. Tangan gadis itu kembali dicengkram kuat pemuda yang kini menjadi beringas, mengerayangi dan kemudian mengecup tiap inchi leher Tiana.
"Hentikan Bi, gue mohon hentikan semua ini. Tolong ... gue gak mau kayak gini!" pinta gadis itu memohon dengan nada suara yang melemah. Dia merasa jijik, hina dan kotor ketika setiap kecupan bibir Febian menempel pada kulit lehernya. Bayangan demi bayangan saat Mike menjamahnya muncul memenuhi ruang memorinya.