Setengah jam sebelum kejadian.
Tepatnya di apartemen mewah milik Mike. Dia menyambar jaket di bangku, lalu meraih kunci motor di atas meja. Laki-laki tampan berwajah bule keluar kamar setelah merenungi ucapan Papahnya.
"Lho, Tuan muda ...." Giorgino menatap anak majikannya dari wajah sampai ke kaki. "Anda mau ke mana malam-malam begini?" Penampilan Mike bukan seperti orang yang hendak tidur. Jaket kulit sudah menutupi tubuhnya. Tangannya menenteng helm dan mengenakan sepatu boots.
"Ke rumah cewek itu!" sahut Mike singkat, kemudian mengambil kunci di atas lemari televisi dan memasukinya ke dalam saku.
"Jadi ... Anda mau bertanggung jawab?" tanya laki-laki tua itu sumringah. Baginya, momen ini adalah kejadian langkah yang terjadi puluhan tahun sekali dalam hidup dia melihat Tuan Mudanya ingin bertanggung jawab atas perbuatannya pada seorang cewek. Suatu hal yang ajaib juga menakjubkan bagi Giorgino.
"Berisik! Udah elu tidur aja, jangan pengen tau urusan majikan!" titah Mike, kemudian keluar. Giorgino sangat senang melihat Tuan Mudanya sudah berubah.
"Ini berita penting, aku harus memberitahu Tuan Besar!" Pungkasnya bergegas mengambil ponsel. Mengirim pesan pada Tuan Besarnya.
Lalu Mike, dia mulai menghidupkan motornya, ban motor mulai berputar pelan. Pemuda itu menambah kecepatan setelah keluar dari parkiran.
Laju motor semakin kencang di tengah sepi dan heningnya malam. Menerobos kegelapan jalan desa menuju rumah Tiana. Lampu motor terus menemani selama perjalanan, menerangi jalan yang mulai tak mulus. Melewati persawahan yang sempat Tiana dan Febian lewati.
Lalu ....
Suara decit rem motor terdengar memekak telinga, suara decitan bebarengan suara teriakan seseorang di depannya. "T-Tiana?" Mike langsung turun dari motor. Perempuan itu terlihat ketakutan dengan deru napas sedikit memburu.
"Ti ... kamu ngapain di sini?" tanya Mike. Gadis itu pelan-pelan menurunkan tangan yang menutupi wajahnya setelah mendengar suara Mike.
"M-Mike?"
"Ya, ini gue. Elu ngapain ada di sini?" tanya Mike heran, dia melihat sekelilingnya. Hanya ada sawah-sawah yang terbentang luas tanpa ada rumah penduduk dan juga penerangan. Tiana tidak langsung menjawab, dia melihat ke belakangan dengan ekspresi takut juga cemas.
"Hei ... elu dengerin gue ngomong 'kan?" tanya Mike sekali lagi sambil melambaikan tangan di depan wajah Tiana. Gadis masih terlihat syok dan linglung, dia tidak menggubris pertanyaan Mike. Matanya melihat jalan setapak persawahan yang baru saja dia lewati. Dia juga kuatir dengan dokter Irana, berharap Febian tidak menemukan dokter Irana di persembunyiannya.