Detak Cinta Yang Hampir Hilang

Kamalsyah Indra
Chapter #17

Tertangkap Oleh Febian.

Di gudang tua terbengkalai, jauh dari keramaian hunian warga. Tempat yang terbuang dan kumuh, tak ada suara. Penuh keheningan di antara malam yang sunyi. Febian duduk menatapi dokter Irana yang tergantung. Tangan terikat tambang, pakaiannya yang kotor. Masih tak sadarkan diri.

Pemuda itu mulai menyulutkan rokok, api kecil membakar ujung rokok dari korek. Entah mulai kapan dia merokok, selama ini baik Tiana, Mike atau keluarganya tidak ada yang tau dia merokok. Sepertinya, bukan sekali dua kali dia merokok. Asap mengepul kala ia menghembuskannya.

"Siram pake air di ember!" titahnya pada dua laki-laki berbadan kekar, berjaket denim lengan pendek dan kacamata hitam. Beberapa tato terlihat di bagian lengan atas. Menambah kesan seram nan menakutkan.

Salah satu laki-laki itu bergegas mengambil ember sesuai perintah Febian. Air dingin pun membasahi wajah dokter Irana. Perempuan berusia 30 tahun itu gelagapan, membuka mata dengan terpaksa. Matanya pelan-peelan terbuka, melihat sekeliling tempatnya berada.

"I-ini?" bisik batinnya, ia berusaha mengenali tempat kosong berbau itu.

Febian membuang rokoknya, kemudian menginjak hingga bara api kecil di rokok mati. Suara tepuk tangan yang mengiringi langkahnya terdengar nyaring. Dokter Irana menengok cepat. "F-Febian?"

"Halo dokter Irana!" Dengan santai, Febian melambaikan tangan tanpa bersalah.

Mata cantik itu terbuka lebar. Antara kaget dan tidak percaya dia akan jatuh ke tangan Febian. "K-kamu ... gimana bisa?" Bingung, berusaha melepaskan tambang yang mengikat kedua pergelangan tangannya

"Kenapa? Kaget?" tanya Febian mulai berjalan mengelilingi dokter Irana. "Kau pikir, gue akan terus pingsan oleh pukulan cewek lemah kayak elu, dokter Irana?" ucapnya. Kini dia mendekati perempuan yang masih sendiri itu.

Dokter Irana terdiam, dia hanya melirik. Namun menghindari kedekatan wajah Febian pada wajahnya. "Kau tau, apa akibatnya mengganggu kesenangan gue?" tanya Febian berbisik di telinga dokter Irana, sambil menekan kedua pipinya.

Perempuan yang baru satu tahun dipindahkan ke desa itu tidak akan menyangka akan berurusan dengan Febian. Walau orang-orang menganggap pemuda itu baik, tapi tidak dengan dia. Firasatnya selalu mengatakan bahwa Febian bukan pemuda yang baik. Tidak pantas dengan Tiana.

Tetapi, dia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan orang-orang desa kecuali urusan menyembuhkan penyakit. Dan kini, ucapannya terbukti sendiri.

Lihat selengkapnya