Di rumah Febian.
Pemuda itu masuk dengan wajah bertekuk-tekuk. Membanting pintu sangat keras, membuat Mila terbangun dan mencari tau pelakunya.
Mila menyipitkan matanya. Ruangan gelap membuat dia susah mengenali sosok anaknya sendiri. Dia menyalakan lampu, "Febian?" Wajahnya cukup kaget melihat anaknya keluyuran malam-malam. Febian mendiami Ibunya, kemudian masuk kamar tanpa bicara setelah meneguk segelas penuh air putih dari kulkas. Mila mendengus. Kemudian mengikuti pemuda itu ke kamarnya.
"Dari mana kamu?" Mila duduk di pinggiran kasur sembari menyilangkan tangan. Tatapannya tajam.
Febian tetap diam, hatinya dongkol, kesal juga marah dengan rencananya yang gagal untuk mendapatkan Tiana. Apalagi ada orang yang sengaja membantu dan ikut menggagalkan rencananya.
"Febian, kamu dengarin ucapan Ibu, kan?" Nada suaranya penuh penekanan, tetapi ada sedikit dia menyelipkan nada-nada marah di kalimatnya itu. "Dari mana kamu malam-malam begini, Febian?" Sekali lagi Mila bertanya. Dia paling sebal dicuekin anak ataupun suaminya.
Febian menghela napas. Namun masih enggan berbicara. "Apa Tiana penyebabnya sampai-sampai kamu mengabaikan Ibu, Bi?" tebak Mila, pikirannya langsung tertuju pada Tiana, gadis malang itu selalu menjadi kambing hitam setiap pemuda itu ada masalah. Bagi Mila, gadis itu selalu pembawa sial buat Febian.
"Bukan urusan Ibu!" Febian unjuk bicara setelah sekian menit mendengarkan ocehan Ibunya itu.
"Ooh, bukan urusan Ibu? Hanya karena anak haram itu kamu jadi melawan Ibu?" Mila mulai terpancing emosi. Dulu, sebelum Febian kenal dan pindah ke desa itu putranya tidak pernah melawan, bahkan dia menjadi anak terpatuh di seluruh dunia. Apapun yang Mila katakan Febian akan selalu berkata "Iya". Tetapi sikapnya setiap saat membuat dia marah kala Tiana masuk dalam lingkaran hidup mereka.
"Dia bukan anak haram, Bu! Hanya ibunya saja yang gak tau diri meninggalkan Tiana dan Ayahnya!" sergah Febian membela Tiana. Entahlah, dia selalu saja membela gadis itu walau dia sangat kesal dengan Tiana.
"Masih saja kamu belain si abak haram sialan itu!"
"Tolong jangan memanggilnya seperti itu lagi, Bu. Dia punya nama, namanya Tiana!" Febian tetap saja membela Tiana walau dia sudah sangat marah dengan penolakan atas permintaannya tadi.
"Tetap saja, dia anak haram. Buktinya, Ibunya saja meninggalkan dia tanpa memberi kabar sampai sekarang!" Cibir Mila membela diri. "Udah, katakan pada Ibu, ada masalah apa kamu sama dia?" Mila tetap saja penasaran dengan masalah anaknya dengan Tiana.
Febian tertunduk. "Dia gak mau sama aku, Bu!" gumam pemuda itu pelan. Pada akhirnya Febian tetap menceritakan pada Mila. Ya, cuma dia tempat mengadu dengan segala masalah yang sedang dihadapinya.
"Bagus dong! Jadi Ibu gak perlu repot-repot buat ngejauhin dia dari kamu!" Mila sangat senang mendengar kabar ini. Bagi dia, kabar dari putranya sebuah jakpot besar yang tidak perlu ditutupi lagi.
"Tapi aku cuma cinta sama dia, Bu. Bukan wanita lain, dan dia menolakku karena pemuda bule sialan itu!" keluh Febian hampir putus asa mendapatkan Tiana. Selalu saja dia menolak cinta darinya. Bahkan, rencana yang sudah dia susun sedari tiga jam lalu harus gagal.