Romy keluar dari rumah, tak sengaja dia mendengar percakapan anaknya dan Mike. Dia semakin penasaran kala matanya menangkap sosok pemuda yang belum pernah dia temui itu sedang berbicara serius dengan Tiana. Telinganya juga menangkap Mike menyebut-nebut nama Febian.
Dia melangkah pelan, rasa penasaran Romy bertambah besar ketika Mike mengatakan bahwa dia dijebak.
"Siapa yang menjebak siapa?" Suara lantang Romy terdengar di tengah-tengah halaman rumah. Mike dan Tiana menoleh. Keduanya cukup kaget dengan kehadiran Romy yang tak diundang.
"Ayah?"
"Katakan, siapa yang menjebak siapa? Ayah mendengar kamu dan temanmu menyebut nama Febian, apa dia yang sedang menjebak?" tanya Romy memaksa Mike atau Tiana menjelaskannya.
"Aah ... gak ada Ayah, kami hanya sedang membicarakan masalah di kampus!" Tiana berdalih. "Lebih baik elu pulang sekarang. Udah malam, besok kita bicara masalah ini lagi." Gadis itu memutar tubuh Mike yang masih terlihat seperti orang bodoh.
"Eh, tapi masih ada yang mau gue omongin sama elu, Ti!" Bisik Mike. Sengaja dia menahan tubuhnya agar tidak cepat sampai ke motornya.
"Besok aja, gue udah ngantuk." Tiana terus memaksa Mike jalan ke motornya dan segera pergi dari rumahnya sebelum ada banyak pertanyaan dari Romy.
"Tapi---"
"Biarkan saja dia bicara dulu, Tiana. Kenapa kamu paksa dia pulang?" Romy semakin penasaran dengan sikap dua pemuda di depannya. Keduanya terlihat berdebat tentang apa yang tidak dimengerti Romy.
"Gak bisa Ayah, dia harus pulang. Rumahnya sangat jauh dan ini udah malam," sargah Tiana.
Mike balik arah, lalu berjalan ke Romy. Gadis itu berusaha mengejarnya, "Apa yang mau elu lakukan, huh? Udah, lebih baik elu pulang sekarang sebelum masalah bertambah!" seru Tiana sambil melihat ke arah Ayahnya beberapa kali.
"Gak, gue mau bilang semuanya sama Ayah elu." Mike mempertegas tekadnya. Lalu dipandang serius Romy. "Om, ada yang mau saya katakan sama Om." Sebenarnya, dia cukup ragu mengutarakan semua niatnya hari ini datang ke rumah Tiana dan berbicara pada Romy. "Sebenarnya saya ---"
Tiana membekap buru-buru mulut Mike. Romy mengkerutkan dahi, semenjak tadi dia perhatikan sikap Tiana ada yang aneh. Seolah ada hal yang ditutupi dua anak muda itu. "Sebenarnya dia mau buang air besar dan mau numpang ke kamar mandi, Yah. Tapi dia gak bisa ngomongnya," cegah Tiana agar Mike tidak bicara sembarangan.
"Ti, kenapa kamu selalu mencegah pemuda itu bicara? Apa ada yang kamu sembunyikan dari Ayah tentang dia, Ti?" ujar Romy menaruh curiga. Menatap dalam-dalam wajah putrinya.
"N-nggak a-ada, Yah. Benar deh, gak ada yang aku sembunyikan, kok. Temenku ini juga cuma mau menumpang ke kamar mandi, gak ada maksud lain kok," bantah Tiana tergugup. Memaksa tersenyum hingga Romy membaca gelagat mencurigakan gadis itu.